Film Sam Ratulangi Sedikit Lagi Hadir di Bioskop

527
Tim sosialisasi Film Sam Ratulangi The Movie di What's Up Cafe Kawasan Mega Mas (Iswan Sual)

Manado, MP

Sosok  Gerungan Samuel Saul Jacob (GSSJ)  Ratulangi memiliki banyak kisah yang pantas dan semestinya dituturkan kepada generasi berikutnya.

Barangkali itu yang menjadi dasar sehingga Pahlawan Nasional dari Tondano Minahasa itu hendak dihidupkan kembali dalam film layar lebar.

Realisasi itu mulai nampak dari digelarnya acara dengan tajuk Launching Produksi Film Sam Ratulangi The Movie di What’s Up  Cafe Kawasan Mega Mas Manado pada Senin (1/10) 2018.

Menurut Michael Umbas film itu akan menggambarkan sepak terjang Sam Ratulangie serta detail menarik lainnya yang belum diketahui publik.

“Dengan film kita, itu sebuah karya seni yang buat saya menggambarkan, walaupun film itu tidak bisa menceritakan keseluruhannya. Tapi paling tidak, film akan mencerminkan siapa sebenarnya tokoh Sam Ratulangi dan peran dia terhadap Indonesia sejak sekolah dan zaman pergerakan kemerdekaan. Ada banyak cerita yang tersembunyi  yang perlu kita tahu dari sosok Sam Ratulangi,” beber Umbas.

Dikatakannya, lebih lanjut, bahwa membuat film tidak mudah karena membutuhkan dana dan riset mendalam. Apalagi ada adegan yang pengambilan gambarnya akan dilakukan di Belanda.

“Membuat film tidak mudah. Apalagi biayanya cukup mahal. Akan banyak scene nanti yang akan diambil di Belanda untuk mengikuti jejaknya di Belanda. Oleh karena itu, ini menjadi tantangan,” tutur Michael.

Dalam acara itu pula  terungkap bahwa Ody Mulya Hidayat sang produser film Dilan akan menjadi orang utama dalam proses produksinya.

“Bukan sembarang produser. Saya menjadi optimistis karena ketika ketemu bung Odi, bung Odi-lah yang meyakinkan bahwa membuat sebuah karya film itu kita mengeluarkan semua idealisme. Bung  Odi-lah yang membidangi film Dilan. Memang film itu untuk anak muda tapi Dilan berhasil ditonton oleh enam juta orang. Nomor dua,” ujar Umbas.

Selanjutnya, Michael mengungkap bahwa kerja mereka sudah pada tahap observasi setting lokasi, penyiapan skrip dan riset referensi. Kedatangan mereka adalah untuk sosialisasi. Karena targetnya, kata Umbas, 6 bulan depan film selesai.

“Skenarionya sementara dipersiapkan ditulis. Kami harus melakukan banyak riset supaya hasilnya benar-benar menggambarkan sosok  riil Sam Ratulangi. Sudah meminta restu kepada pihak keluarga. Puji Tuhan alhamdulilah sudah disetujui. Keluarga memiliki banyak file-file. Namun lewat forum ini kami mohon juga masukan-masukan,” tukas Umbas penuh antusias.

Muhammad Yamin yang ikut dalam tim mengatakan bahwa film itu merupakan gagasan Michael Umbas dan Ody Mulya Hidayat.

“Ini gagasan bersama Michael Umbas dan Ody.  Sam Ratulangi memang tokoh besar disini, sangat dihormati. Mulai dari bandara, nama jalan, universitas. Saya kira sudah waktunya kita tahu sosok Sam Ratulangi ini menjadi lebih detail, lebih akrab biar dekat sama kita. Dan film adalah salah satu tempat untuk menghidupkan orang selain buku,” kata Yamin.

“Di film lebih jelas dan seolah-oleh orang bisa  berinteraksi. Dan film nilainya lebih tinggi dari buku. Karena puluhan buku bisa dalam satu film. Karya yang multi aspek,” tambah Yamin.

Kualitas film diyakini Imran Hasibuan akan bagus lantaran skenarionya ditulis oleh Titien Watimena. Dan demi merebut minat kaum milenial, katanya, film akan berisi campuran pendidikan dan hiburan.

“Skripnya lagi ditulis oleh seorang penulis yang terkenal yaitu Titien Watimena. Felem akan dibuat serius tapi bisa ditonton oleh anak milenial untuk  menanamkan pendidikan sebagai contoh dari kehidupan seorang manusia yang berjuang,” tutur Imran.

“Banyak pahlawan yang diangkat seperti Habibi dari Gorontalo, Sultan Agung Jawa. Kenapa Sam Ratulangi nggak diangkat? Tugas saya untuk mengkolaborasi antara edukasi dan entertain. Saya coba diskusi dengan para penulis. Kontennya harus menarik karena kita terbentur dengan 120 menit,” ungkap produser eksekutif Max Picture tersebut.

Radian Ratulangi Sugandi, cucu sang pahlawan GSSJ Ratulangi yang turut hadir merasa senang dengan upaya yang dilakukan tim.

“Kami keluarga sering kumpul bersama dan berupaya melakukan sesuatu untuk menceritakan kepada sesama dan anak-anak soal ketokohan kakek kami Sam Ratulangi. Tapi kami tentu hanya melakukan yang kami bisa. Kami senang ada yang mau memfilkan,” kata anak Lani Ratulangie ini.

Dalam pertemuan itu pula seniman patung Sulut Denni Ratulangi sempat menyerahkan patung kepala Sam Ratulangi untuk keluarga gubernur Sulawesi yang pertama itu.

Tim pembuat film mendapatkan masukan dari para tokoh pelaku sejarah,  seniman, sejarawan pelaku budaya dan wartawan. Diantaranya dari Prof Adolf Sinolungan, Bodewyn Grey Talumewo, Christ Lengkong dan Pdt Midel Onibala. (Iswan Sual)