ASN Molbar Lecehkan Tarian Kawasaran Di HUTRI

1673
Tarian Sakral Kawasaran saat ditampilkan STMS di Raanan Baru (Ricky Sondakh)

Amurang MP,

Suasana peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada Jumat (17/8) 2018 yang dipusatkan di desa Raanan Baru Kecamatan Motoling Barat tercoreng.

Apa pasal? Rombongan penari Kawasaran merasa dilecehkan oleh seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) saat bertindak selaku MC (Master of Ceremony) di acara pawai usai upacara penaikan bendera.

Hal itu terjadi tatkala serombongan Kawasaran Sanggar Tumondei Minahasa Selatan (STMS) dari desa Tondei mendekati panggung sembari menari tarian yang menyimpan nilai-nilai patriotisme yang diperbuat para leluhur dahulu.

Kepada MP, Yanli Sengkey  sebagai Ketua Umum STMS, berucap, sangat disayangkan bila seorang abdi negara apalagi guru punya pemahaman sempit soal budaya sendiri.

“Banya tu blum tau makna Kawasaran. Yang kami perlihatkan bukan sekadar pertunjukkan. Kawasaran itu pesan pa torang skarang kalu torang pe orang tua dulu da berjuang. Dorang korbankan dorang pe darah deng tenaga for mo jaga tu tana Minahasa. Karena tu komando deng syair lagu Tontemboan dorang nda mangarti kong dorang sala kapra,” tegas Sengkey.

Lebih lanjut dia mengatakan, seandainya para leluhur tidak berjuang mungkin kita tidak merdeka. Dengan peralatan sederhana mereka sanggup lindungi para wanita, anak-anak serta orang yang lanjut usia agar tidak dimusnahkan musuh dari luar.

“Torang pe orang tua dulu kasiang da jaga tu tana Malesung (Minahasa, red) cuma pake santi (parang) deng wengkow tombak). Torang menari memang musti dapa lia sangar, kras karna tarian perang. Bagimana mo tako tu musu klu torang senyum ato dapa lia loyo,” tambah pemuda bergelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Bahasa Inggris ini.

Diakui Sengkey kalau mereka telah mengalami pelecehan selama tiga tahun. Selalu saja muncul oknum yang memegang mikrofon di atas panggung dan mengeluarkan verbal harrassment (pelecehan verbal).

“So deri tigia taong lalu, setiap kali 17 Agustus kami ja isi acara Kawasaran. Mar, tu depe pembawa acara salalu ja remehkan kami,” keluh pemuda yang sudah melatih tari Kawasaran dan Si Patokaan kepada ratusan pemuda dan pelajar ini.

Sengkey pun berencana untuk tidak lagi ikut serta dalam acara 17-an selama Camat Motoling Barat tidak menegur dan memberikan arahan kepada oknum ASN itu.

“Brikut sudah kece so ka tigia kali ini! Tu ngo ja bilang kami ja pangge setang so nda mo iko ngo pe acara,” tutupnya.

(Iswan Sual)