AGC Berharap Dukungan Pemda Untuk PESK Tanpa Merkuri

288
Manager Komunikasi AGC Indonesia, Bagus Dharmawan.

Manado, MP

Geliat Artisanal Gold Council (AGC) di Sulawesi Utara untuk memperkenalkan program  peningkatan pembangunan di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) kian kentara.

Program yang didanai oleh Global Affairs Canada (GAC) itu mengkampanyekan penerapan Konvensi Minamata terkait pertambangan bebas merkuri dan sianida.

Menurut Manager Komunikasi AGC Indonesia Bagus Dharmawan, tambang emas di Sulut yang menggunakan merkuri sangat berbahaya dan bisa merusak lingkungan.

“Penambangan yang mengunakan merkuri dan sianida itu sangat merusak lungkungan. Termasuk bagi manusia,” kata Bagus di Nanni’ Cafee, Manado, Selasa (6/11) 2018.

AGC merasa perlu mengucapkan terima kasih kepada para wartawan dan Pemerintah Sulut yang turut memberi dukungan untuk suksesnya program tersebut.

“Tentunya semua ini perlu dorongan lebih dari pemerintah. Mengingat hal ini tidak terjadi hanya di satu kabupaten saja. Karena itu kami berharap ini bisa diberdayakan. Terima kasih untuk awak media dan pemerintah yang menunjukkan keprihatinan yang sama,” kata Bagus Dharmawan.

Namun menurut Bagus, penghentian penggunaan sianida dan merkuri di pertambangan emas membutuhkan masukan dari masyarakat yang bekerja sehari-hari di pertambangan emas.

“Pengolahan emas tanpa merkuri ini  sudah teruji di Meksiko dan Mongolia. Sekarang diterapkan di Indonesia untuk pertama kalinya di Tatelu tepatnya di Kabupaten Minahasa Utara,” ujar Bagus Dharmawan.

Meskipun PESK ditahap awal masih status sosialisasi untuk masyarakat, khususnya buat para penambang di Tatelu, AGC
begitu optimis dalam pekan depan alat tersebut akan dioperasikan.

“Selanjutnya koperasi penambang atau badan usaha milik desa sudah bisa mengelolanya sesuai aturan pemerintah yang berlaku. Karena program ini sengaja dibuat untuk meningkatkan kualitas mata pencaharian, lingkungan, dan kesehatan masyarakat,” tuturnya.

Baru-baru ini, AGC bersama dengan Delegasi Department Of Environment, Provinsi Cotabato Selatan, Filipina, Lembaga Swadaya Masyarakat/Nirlaba Ban Toxic dan Federasi Asosiasi Penambang Emas Skala Kecil Filipina berkunjung ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut, Senin (5/11) 2018.

Kepada para pengunjung diperkenalkan soal pengelolaan emas tanpa merkuri diterima Asisten II Setdaprov Sulut Rudi Mokoginta di Ruang WOC Kantor Gubernur Sulut.

Lebih lanjut, disampaikan bahwa Sulut dipilih negara tetangga Filipina sebagai pilot projects karena antara kedua wilayah mempunyai banyak kesamaan. Seperti iklim cuaca dan keadaan tanah yang mirip.

“Disana punya banyak kesamaan denagan Filipina. Misalnya, jenis.lupang, iklimnya dan lainnya. Kecuali bahasanya. ( Iswan Sual)