AGC dan AMAN Sorot Merkuri di PESK

314
Suasana diskusi. (ist)

Manado, MP
Penggunaan merkuri di Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) merupakan salah satu isu lingkungan menonjol. Pemerintah Indonesia telah meratifikasi konvensi minamata terkait penggunaan merkuri yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Undang-undangnya pun ditetapkan.

Meski demikian, persoalan ini dipandang (masih) sangat butuh perhatian serius berbagai pihak. Kerja-kerja yang konsen terhadap masalah tersebut, digiatkan Artisanal Gold Council (AGC) bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulawesi Utara (Sulut). Itu bergulir lewat Program Emas Rakyat Sejahtera (PERS) di Tatelu, Minahasa Utara dan Tobongon, Bolaang Mongondow Timur.

Tindak lanjutnya, AGC dan AMAN mengangkat persoalan merkuri dan PESK melalui informal meeting di Hotel Quality Manado, Rabu (23/1). Selaku moderator, Rikson Karundeng menerangkan, sejak awal, AGC dan AMAN komit menyeriusi masalah tersebut. Aksi diskusi itu pun terlahir dari orang-orang yang peduli pada PESK Sulut.

“Forum ini menjadi ruang bagi para aktivis, akademisi, mahasiswa dan instansi pemerintah terkait. Dimana, berbagai persoalan PESK dibahas. Beragam ide dan saran dari peserta forum akan ditampung AGC dan AMAN. Selanjutnya diimplementasikan di wilayah PESK,” tutur Karundeng.

Selaku pemateri, Direktur Yayasan Suara Nurani, Jull Takaliuang memaparkan soal dampak penggunaan merkuri. Sederet kasus pencemaran merkuri di Bumi Nyiur Melambai pun diangkatnya. Ia prihatin, semisal yang terjadi di teluk Buyat.

“Efek merkuri bagi manusia sangat berbahaya. Jadi, besar atau kecil jenis skala pertambangannya, kajian mengenai lingkungan harus tuntas dan independen,” tegas Takaliuang.

Ditambahnya, selain kesehatan dan lingkungan, keselamatan penambang di PESK juga perlu diperhatikan. Apalagi, nyawa penambang dipertaruhkan di dalam lubang tambang.

Diketahui, data tentang PESK di Tobongon dan Tatelu sudah dikantongi AGC dan AMAN. AGC dan AMAN juga intens meningkatkan kesadaran masyarakat soal kesehatan dan keselamatan di wilayah PESK. Adapun, forum diskusi yang merupakan agenda rutin AGC-AMAN ini, senantiasa melibatkan orang-orang berkompeten. Di antaranya aktivis, mahasiswa, jurnalis, lembaga swadaya masyarakat dan dinas terkait. (eka egeten)