AMAN-AGC Gelar FGD Menyikapi Tantangan PESK di Minut

169

Aermadidi, MP

Artisanal Gold Council (AGC) bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulut terus mengadvokasi dan mengedukasi masyarakat yang tinggal di wilayah pertambangan emas skala kecil (PESK). Perhatian serius diberikan untuk mendorong tingkat kesejahteraan warga sekitar PESK di Bumi Nyiur Melambai.

Selain memperkenalkan teknologi pengolahan emas ramah lingkungan, AGC melaksanakan workshop atau seminar dengan stakeholder dan instansi terkait yang berhubungan dengan program AGC.

Rabu (31/7), AMAN Sulut dan AGC menggelar Fokus Grup Diskusi (FGD) tentang Menghadapi Tantangan Pertambangan Emas Skala Kecil di Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Minahasa Utara (Minut), di daerah Minut memiliki wilayah PESK yakni Kecamatan Talawaan dan Kecamatan Dimembe. “Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) sesuai SK Bupati Minahasa Utara No 146a tahun 2011. WPR Tatelu 25 Ha dan WPR Talawaan 25 Ha,” ungkap Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DHL Minahasa Utara, Nico Lumowa.

“Kegiatan pertambangan masih dilakukan secara tradisional dengan cara membuat lubang sepanjang zona urat dengan menggunakan alat sederhana sehingga menghasilkan bentuk dan ukuran yang kurang memenuhi persyaratan teknis,” ucapnya.

Dia pun melanjutkan bahwa dalam daerah pertambangan masih banyak didapati kurang adanya pengetahuan modern untuk mengelola emas sehingga terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Penambang masih menggunakan cara tradisional sehingga rawan terhadap kecelakaan kerja, belum terdaftar sebagai peserta asuransi jiwa, belum memahami cara penambangan emas yang baik dan benar, sebagai pekerja atau buruh harian lepas,” lanjutnya.

“Solusinya yakni belajar tentang penambangan emas tradisional yang benar, PESK adalah safetynya, cara pengelolahan lingkungan seperti tilling dan B3. Menyiapkan lahan untuk penambang,” tutupnya.

Menyikapi tantangan PESK, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa Utara melalui Kepala Bidang (Kabid) Dinkes Minut dr. Grace Tueke, mengatakan dampak kesehatan yang dialami penambang dan masyarakat di sekitar penambangan cukup banyak.

“Banyak sekali debu-debu di lokasi pertambangan sehingga debu ini bisa menganggu sistem saluran pernafasan dari penambang atau pun masyarakat di sekitaran. Selain itu lokasi pertambangan berada di jalur yang panas sehingga para penambang sering mengalami dehidrasi,” ucapnya.

“Faktor kimia atau banyak bahan kimia yang digunakan di daerah penambang atau lokasi pertambangan menciptakan hal buruk bagi kesehatan,” ungkapnya.

Dari Dinas Kesehatan pun mendapati para penambang kurang memperhatikan kebersihan personal. “Kebersihan personal kurang diperhatikan karena mungkin para penambang berpikir pekerjaannya berhubungan dengan tanah dan debu akhirnya kurang memperhatikan kebersihan sehingga kuman dan bakteri boleh masuk, baik dalam sistem pernafasan maupun sistem percernaan,” tuturnya.

“Lokasi PESK kurang memperhatikan lingkungan kerja sehingga fasilitas berupa toilet dan sarana air bersih tidak ada. Di lokasi pertambangan juga mengunakan peralatan yang menimbulkan kebisingan atau pun peralatan seperti kompresor, genset. Ini kurang diawasi sehingga dapat menggangu sistem pendengaran para penambang. Selain itu karena penambang sering dikejar dengan target sehingga kurang memperhatikan istirahat. Ketika masuk di lobang, hampir lupa akan waktu akhirnya sering dijumpai penambang mengalami kelelahan,” ucapnya.

Lebih lanjutnya dia pun memaparkan, hal yang paling berbahaya para penambang baik skala besar atau skala kecil adalah dampak dari merkuri dan banyak mendapat sorotan. “Dampak dari merkuri bagi kesehatan cukup berbahaya karna sifat dari merkuri termasuk logam berat yang berbentuk cair, berwarna putih dan mengkilap lalu mudah menguap. Dari sifat dan karakteristik dari merkuri bisa mencemari air minum dan bahan makanan seperti air minum dan beras,” lanjutnya.

“Sifat merkuri bertahan lama dengan lingkungan dan tersebar luas mencemari wilayah lain yang jauh dan sangat beracun sehingga berbahaya bagi lingkungan, terlebih khusus kesehatan manusia,” tandasnya. (Eka Egeten)