Arie Tulus, ‘The Next Henk Ngantung’ Dari Tomohon

526
Arie Tulus berdiri di samping lukisannya (Arie Tulus)

Manado, MP

Tak banyak Aparatur Sipil Negara (ASN) dosen yang masih mau menyibukkan diri dengan hal lain di luar profesinya walaupun itu berkontribusi tinggi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Adalah Drs Arie Tulus, MP yang turut hadir memberi warna berbeda dalam Manado Fiesta 2018. Ini suatu hajatan tahunan bergengsi dan menyita perhatian warga Kota Tinutuan dan sekitarnya serta mancanegara.

Tulus yang tergabung dalam komunitas perupa Torang 19 ikut menyemarakkan event rutin Pemerintah Kota Manado tersebut melalui kegiatan Pameran Seni Rupa yang sementara dilangsungkan di Hotel Sintesa Peninsula Manado.

Direncanakan ajang bermutu tinggi ini akan berakhir pada Senin (10/9) 2018. Setelahnya akan dilanjutkan di Manado Town Square (Mantos).

Dikatakan tenaga pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado ini, kegiatan pameran perlu secara terus-menerus agar masyarakat Sulut kian memiliki kesadaran dan bisa mengapresiasi karya seni.

“Pameran karya Seni Rupa di Sulawesi Utara apakah Seni Lukis, patung, sketsa sketsa, gambar ilustrasi, ragam hias tekstil, atau karya karya dalam bentuk dua dan tiga dimensi lainnya sangat perlu dilakukan secara berkesinambungan.”

“Mengapa demikian? Karena dengan begitu akan lebih meningkatkan daya  apresiasi warga masyarakat Sulut terhadap karya karya dan para perupa yang ada di daerah Nyiur Melambai ini. Begitu juga dengan mereka yang datang dari luar tentunya,” kata Pembantu Dekan Bagian Kemahasiswaan FBS UNIMA via WhatsApp.

Selanjutnya, Tulus mengatakan bahwa tidak jadi soal bila karya tidak dibeli. Asalkan kebebasan berekspresi tersalurkan itu sudah cukup. Namun bila ada yang berminat tentu patut disyukuri.

“Apakah karya karya ini akan dibeli atau tidak hal ini bukan masalah. Yang terutama kita sudah berekspresi dan ikut bersama dalam membangun negeri ini melalui berbagai potensi yang torang miliki.”

“Jika ada peminat hingga mereka boleh menghargai dengan membeli karya karya seperti yang ada di Sintesa Peninsula Hotel ini ya syukuri saja. Jika tidak ada yang terjual bukan berarti akan berhenti disini,” ujar pria bertubuh kekar dan tinggi tersebut.

Kepada MP disampaikan, dia telah terlibat dan banyak makan garam dalam kegiatan pameran serupa sedari 1980-an.

“Saya pribadi bekerja pada bidang ini dan ikut terlibat langsung melakukan pameran tunggal dan bersama sudah sejak tahun 1980/1981 dan tidak akan pernah merasa kapok karena
Karena memang sudah menjadi profesi,” tuturnya.

Diinformasikan, Tulus tengah menyiapkan karya-karya baru untuk program pameran tunggal kelak.

“Sekarang ini juga  sementara mempersiapkan diri dan karya karya lukis yang nantinya akan disuguhkan pada pameran tunggal nanti,” ketus dosen di Jurusan Seni Rupa ini.

Di tempat yang sama, ketua panitia penyelenggara John Willem Semuel mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan inspirasi dari Henk Ngantung, seniman kondang nasional dari Tomohon, Minahasa.

Mereka berencana akan pula berpartisipasi dalam kegiatan sama di Galeri Nasional Jakarta.

“Sulawesi Utara ini tonggak sejarah seni rupa sejak 1800-an. Baru muncul Hengk Ngantung tokoh seni rupa nasional. Kita ini seperti di pinggiran. Kita mau melangkah ke tengah seperti Surabaya,  Bandung, Jakarta, Bali. Keseniannya sudah lebih maju daripada torang di Sulawesi Utara. Oleh karena itu torang ada rencana mo pameran di Jakarta di Galeri Nasional,” tambahnya.

Semuel berharap mereka selaku seniman Sulut sanggup menjadikan Manado sebagai pusat seni rupa di Indonesia bagian timur.

“Harapan kedepan, menjadikan Manado sebagai pusat seni rupa Indonesia Timur. Mudah-mudahan kalu bisa jalan bagus kedepan,” tutupnya.

Terpantau, selain lukisan, karya yang dipertontonkan ialah seni patung, instalasi, fotografi, dan batik.
(Iswan Sual)