Bedah Tantangan Era Revolusi Industri 4.0, Pemuda Tomohon Dipecut

297

Tomohon, MP
Sabtu (26/10), Himpunan Mahasiswa (HIMA) Tomohon gelar diskusi bertajuk ‘Generasi Muda Menghadapi Tantangan Era Revolusi Industri 4.0’. Kegiatan yang dilaksanakan di Elmonts Coffee & Roastery, Kolongan Satu, Tomohon Tengah itu, dalam rangka merefleksikan Hari Sumpah Pemuda ke-91.

Hadir sebagai narasumber, Director Komunitas Penulis MAPATIK yang juga penggerak sejumlah komunitas kreatif, Rikson Karundeng, pelaku industri kreatif dan owner Etsuko Kitchen, Etsuko Paat, pengusaha muda dan owner Elmonts Coffee & Roastery, Maesa Paat, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Tomohon, Ventje Karundeng, akademisi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri yang juga birokrat senior, Arnold Poli.

Dalam diskusi ini, Rikson Karundeng memaparkan tentang era globalisasi dan perkembangan revolusi industri dari 1.0 sampai 4.0, society 5.0 hingga tantangan, peluang dan harapan generasi muda hari ini.

Etsuko Paat mengungkapkan bagaimana proses ia membangun Etsuko Kitchen dari omset 100 ribu rupiah per hari hingga bisa menyentuh ratusan juta rupiah per bulan. Gadis 22 tahun ini ikut mengisahkan bagaimana media sosial mampu memicu perkembangan usahanya, sekaligus memberikan beberapa tips untuk meraih sukses di era revolusi industri 4.0 ini.

Pengalaman sukses yang sama dibagikan Maesa Paat. Nilai-nilai budaya, keminahasaan, jadi pondasi ia membangun usaha. Ia pun menegaskan soal bagaimana merintis usahanya, sambil mengedukasi petani untuk mendapatkan hasil maksimal dengan kualitas terbaik. Bagaimana menjalankan usaha sembari mengedukasi pemuda lainnya hingga berhasil membangun usaha yang sama secara mandiri dengan saling menopang. Ia juga mengakui, perkembangan teknologi sangat membantunya untuk memaksimalkan perkembangan usahanya.

Sementara, Ventje Karundeng memaparkan tentang peran pemerintah untuk menunjang pemuda di era revolusi industri 4.0. Menurutnya, itu bagian dari misi pemerintahan Walikota Jimmy Feidi Eman dan Wakil Walikota Syerly Adelyn Sompotan soal kemandirian. Bagimana menjadikan Tomohon sebagai kota yang berdaya saing dan kota pariwisata dunia.

Di bagian akhir, Arnold Poli memberikan banyak pengalaman untuk meraih sukses. Ditegaskan, keseimbangan intelligence quotient (kecerdasan intelektual), emotional quotient (kecerdasan emosional) dan spiritual quotient (kecerdasan spiritual) harus seimbang. Menurutnya, selain butuh belajar keras, para pemuda kini juga harus lebih percaya diri agar bisa bersaing di era revolusi industri 4.0.

Diskusi ini mendapat respon luar biasa dari para peserta yang merupakan pimpinan organisasi kemahasiswaan dan aktivis pemuda di Kota Tomohon.

“Apresiasi buat HIMA Tomohon yang telah menggelar kegiatan diskusi yang luar biasa, menghadirkan narasumber yang luar biasa dan para peserta yang juga luar biasa,” kata Kharisma Kurama, penggerak Komunitas Tomohon yang memoderatori diskusi yang berlangsung sejak sore hingga malam hari itu.

Ia berharap, ke depan para pemuda di Kota Bunga bisa lebih intens lagi menggelar kegiatan-kegiatan intelektual seperti ini.

“Semoga ke depan, HIMA Tomohon bahkan organisasi-organisasi dan komunitas-komunitas pemuda-mahasiswa di Kota Tomohon bisa lebih intens menggelar kegiatan intelektual seperti ini. Sebab kegiatan seperti ini jelas sangat membantu para pemuda mendapatkan wawasan yang lebih luas, mengasah daya kritis dan membuat para pemuda bisa lebih berani,” tandas Kurama.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, pimpinan sejumlah organisasi pemuda dan mahasiswa, seperti GMKI Cabang Tomohon, para aktivis GMNI, Ikatan Putra-Putri Tomohon, Komunitas Penulis MAPATIK, Komunitas KUMATAU, Forum Tomohon, DEM UKIT YPTK, aktivis mahasiswa Tomohon di UNIMA, Komunitas Film Tomohon, Komunitas Kreatif Tomohon, dan sejumlah organisasi kepemudaan lainnya. (Eka Egeten)