BEM-HIMAPEM FISPOL Dialog ‘Ruang dan Waktu Spirit Sumpah Pemuda dan Tantangan Kosmopolitan’

153

Manado, MP
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HIMAJU) Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISPOL), Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado, gelar dialog bertajuk ‘Ruang dan Waktu Spirit Sumpah Pemuda dan Tantangan Kosmopolitan’. Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ini digelar di Aula Fispol, Unsrat, Manado, Rabu (30/10).

Valentino Lumowa, akademisi Unika Della Sale, dan Fredy Wowor, akademisi Unsrat hadir sebagai pemateri.

Lumowa mengatakan, sumpah pemuda adalah peristiwa historis yang harus dilihat makna yang di bawahnya. Salah satu hal yang bisa diangkat adalah dari perspektif performative act.

“Dari sudut pandang performative act itu, sumpah tidak butuh dilaksanakan lagi. Karena ketika sumpah terucap pada saat yang sama dia membentuk identitasnya sendiri. Dia menjadi apa yang seperti diungkapkan dan diucapkan. Dengan demikian pada saat sumpah itu terucap, pada saat yang sama kita mengakui atau kami mengakui pada saat itu, mereka para pemuda mengakui bahwa mereka bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu,” kata Lumowa.

Dengan demikian, tidak ada lagi yang mengkhianati sumpah.
“Jadi tidak ada kemungkinan secara logis untuk mengkhianati sumpah. Karena itu akan bersifat anakronistik. Yang bisa dilakukan adalah orang tidak mampu untuk hidup berdasarkan makna yang dilimpahkan oleh sumpah itu yakni identitas kebangsaan. Itu yang bisa dikhianati,” jelas Lumowa.

Sementara Fredy Wowor mengatakan, sumpah pemuda dalam artian visi yang digambarkan oleh generasi waktu itu, adalah pegangan untuk bisa menuju ke masa depan yang dicita-citakan bersama.

“Dalam pemahaman dengan sumpah pemuda, lahirlah Republik Indonesia kemudian. Dan ketika Indonesia so lahir, bukan berarti kelar dengan sumpah pemuda, dia jusrtu baru mo dimulai ketika torang generasi hari ini, sebagaimana juga generasi waktu itu, telah mengambil pilihan,” terang Wowor.

Dia juga memotivasi generasi sekarang harus punya idaman, bayangan, tentang Indonesia di masa depan, sebagai sebuah republik.

“Torang ini pembawa obor, pembawa cahaya di setiap zaman yang baru. Artinya generasi yang melahirkan putusan kongres dua sumpah pemuda, adalah generasi yang punya idaman di masa depan, begitu juga torang hari ini,” tandas Wowor.

Apresiasi diberikan dari berbagai pihak. Salah satunya dari mahasiswa Fispol, Halen Mogot.
“Saya mengapreasiasi ruang dialog yang difasilitasi oleh BEM dan HIMAJU Pemerintahan Fispol, yang telah menjadi medium untuk ide, gagasan, bahkan khazanah pengetahuan bisa berkembang dan menstimulus insan akademis yang hadir,” ujar Mogot, moderator dalam diskusi ini.

Ia berharap, ruang-ruang dialog seperti ini terus dilakukan. “Konsistensi untuk merawat nalar dengan tetap membuka ruang-ruang dialog yang substansial, bukan sekedar ceremonial. Itulah harapan saya pada BEM dan HIMAJU Pemerintahan, Fispol, Unsrat ke depan.” kuncinya. (Anugrah Pandey)