Cinta Tanpa Restu Berproses di PN Manado

276

Manado, Mangunipost.com – Sidang pemeriksaan perkara cabul anak di bawah umur yang menjerat terdakwa inisial TD, Senin (25/03), telah menguak fakta menarik terkait jalinan asmara tanpa restu keluarga.

Hal tersebut terungkap, saat Majelis Hakim yang diketuai Vincentius Banar kembali menggelar sidang pemeriksaan saksi secara tertutup. Dimana, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Christyana Olivia Dewi telah menghadirkan korban bersama ibu korban.

Saat dikonfirmasi awak media usai persidangan, Banar selaku Juru Bicara Hakim PN Manado, telah memberikan gambaran mengenai fakta persidangan. Dimana, korban ternyata mengaku masih mencintai terdakwa hingga saat ini. “Saat Majelis Hakim tanya masih cinta sama terdakwa, korban jawab masih,” terang Banar.

Selanjutnya, Banar menuturkan kalau pihak Majelis Hakim juga sempat menggali keterangan dari korban terkait hubungan layaknya suami-isteri yang dilakukan terdakwa TD terhadap dirinya. Dan korban menerangkan kalau hubungan seksual itu dilakukan tanpa ada paksaan dari terdakwa.

Selebihnya, Majelis Hakim telah menanyakan ke ibu korban, apakah bersedia untuk menikahkan korban dengan terdakwa. Tapi, dengan tegas ditolak ibu korban.

Sementara itu, terpantau awak media, ketika sidang perkara ini berakhir, korban justru sempat mendapatkan perlakuan kasar dari sanak keluarganya.

Bahkan, salah satu pengunjung sidang langsung dikasari ayah korban dari belakang. Hanya karena membicarakan soal kasus yang menimpa korban. Hal sama turut menimpa lelaki yang akrab disapa Wowo. Dimana, Wowo telah mendapat tamparan dari ibu korban.

Terpisah, JPU Christyana saat ditemui awak media di depan PN Manado, tak menepis kalau keterangan korban dalam persidangan tidak menyudutkan terdakwa, dan korban memang mengungkapkan masih memiliki rasa cinta terhadap terdakwa. Namun, JPU menegaskan perkara ini adalah perkara anak di bawah umur. Sehingga, sulit bagi terdakwa untuk lolos dari jeratan hukum.

Sekedar diketahui, terdakwa TD yang telah menjalin hubungan asmara bersama korban selama 3 tahun 7 bulan, harus diproses hukum karena nekad menyetubuhi korban hingga hamil dan melahirkan, saat korban masih berusia 16 tahun.

Peristiwa hubungan layaknya suami isteri itu terjadi sejak Desember 2017 lalu di Kota Manado. Dan dalam persidangan terkuak kalau terdakwa ternyata bukan hanya sekali menyetubuhi korban.

 Alhasil, terdakwa TD kini harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum, karena telah dijerat pidana JPU dengan Pasal 81 ayat (2) dan Pasal 82 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU RI No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. (*)

Penulis/Editor : Jack Wullur