FIB Unsrat Gelar PKM

188

Manado, MP

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) mengelar pelatihan penulisan sejarah gereja di wilayah Maumbi Kecamatan Kalawat, Kabupaten Minahasa Utara.

“Kegiatan yang digelar ini merupakan salah satu bentuk pengabdian kampus terlebih khusus dosen kepada masyarakat (PKM) dan dilakukan setiap tahun,” ungkap Ketua Jurusan FIB, Ivan R.B Kaunang, di Kantor Desa Maumbi, Selasa (03/09).

Selain itu, di tanah Nyiur Melambai tidak banyak desa memiliki catatan sejarah desa. “Pada umumnya ditemui penulisan sejarah desa masih berupa monografi desa dan catatan-catatan, tahun-tahun penting secara kronoligis urutan tahun berdasarkan periodisasi jabatan kepala desa, atau catatan-catatan kaitannya dengan desa,” jelasnya.

“Di Indonesia, minat penulisan sejarah desa belum menjadi perhatian serius sejarawan. Hal ini berkaitan dengan banyak faktor yakni ketersedian data yang memadai, minat dan trend penulisan, dampak karya setelah dihasilkan dan faktor lainya soal pendanaan,” ucap Doktor Kajian Budaya ini.

Menurutnya, secara teoretis konseptual, menulis sejarah desa termasuk kategori penulisan sejarah lokal, yakni sejarah yang tematis dibatasi oleh penulisan dalam lingkup geografis atau spasial kecil dengan tema-tema khusus yang terkadang kurang diminati sejarawan profesional karena sering ditulis hanya sekedar pemuas diri penulisan akan kebanggaan desa atau karena proyek penulisan.

“Memang ada beberapa tulisan karya skripsi atau sejenisnya yang fokus menulis sejarah desa tetapi belum mampu diletakkan desa sebagai fokus lokal yang menasional atau mengglobal. Hal ini yang dimaksud bagaimana peran desa sebagai lokus dalam sejarah nasional Indonesia atau lebih luas lagi keterkaitan internasional (global),” terangnya.

“Pentingnya sejarah pada kehidupan manusia terletak pada kecintaannya pada masa lampau sebagai wawasan kesejarahnya untuk dapat bertindak, melangkah ke masa depan yang baik untuk dapat bertindak, melangkah ke masa depan yang baik. Belajar sejarah menjadi orang bijak. Sejarah ada rekontruksi masa lampau. Kaitanya dengan identitas, jati diri, dan pengalaman akan dirinya. Dengan mengenal dirinya akan diketahui segala pemunuhan akan dirinya yang tepat kini dan kedepan,” tutupnya.

Hal senada dijelaskan akademisi FIB Unsrat, Roger Kembuan. “Tidak dapat disangkal, bahwa sejarah atau disiplin sejarah adalah ilmu yang ramah dan terbuka, dalam pengertian, sapa saja yang menulis sejarah walaupun bukan berprofesi sebagai sejarawan. Akan tetapi, tentu berbeda ketika dalam tataran akademis,” ungkapnya.

Kata Kembuan, belajar sejarah menjadikan orang bijaksana. “Orang tidak akan belajar sejarah kalau tidak ada gunanya. Kenyataannya sejarah mempunyai fungsi pendidikan dan terutama adalah pendidikan moral,” ucap Kembuan.

“Desa Maumbi adalah salah satu desa yang melahirkan banyak kenangan sejarah bagi bangsa Indonesia dengan nama besarnya Maria Walanda Maramis. Tidak banyak generasi kekinian di Minahasa bahkan di Sulut tahu persis eksistensi dan kehadiran pahlawan nasional Maria Walanda Maramis. Kemudian walaupun di desa tetangga lainya seperti Sawangan Airmadidi banyak ditemukan situs waruga, tetapi desa Maumbi tidak kalah juga dengan peninggalan waruga yang tersebar di wilayah desa namun sayangnya belum banyak digali sejarahnya,” tandasnya. (Eka Egeten)