Google Earth Temukan Bangunan Kuno Diduga Piramida

255
Google Earth temukan objek bangunan tua yang berjumlah lusinan dan berbaris berukuran hampir 2.000 meter panjangnya. FOTO/ Mirror

Seward, MP

Teknologi Google Earth temukan objek bangunan tua yang berjumlah lusinan dan berbaris berukuran hampir 2.000 meter panjangnya. Diduga bangunan itu adalah Piramida.

Dalam rekaman yang diposting oleh Blake dan Brett Cousins di YouTube dia menulis “Mungkinkah kota-kota mega tua itu tidak tertutup es?”

Postingan itu tentunya mengundang ribuan komentar yang mengemukakan teori mengenai asal muasal piramida tersebut.

Beberapa komentar meyakini bahwa peradaban purba telah membangun struktur bebatuan mirip piramida ini, sebagian lain menyebut ada ‘campur tangan’ makhluk luar angkasa dalam menciptakan bangunan simetris tersebut.

Kehebohan di sosial media tersebut mengundang Eric Rignot, ahli sains sistem planet bumi dari University of California, Irvine, yang mengatakan bahwa ini hanyalah pegunungan yang berbentuk mirip piramida.

“Bentuk-bentuk alam yang menyerupai piramida bukanlah hal mustahil. Banyak gunung di dunia yang sebagian mirip piramida, namun biasanya hanya di satu atau dua sisi saja, bukan empat sisi,” lanjutnya sebagaimana diberitakan Live Science.

Gunung ‘piramida’ yang belum diberi nama ini adalah satu dari banyak gunung dalam jajaran Pegunungan Ellsworth Antartika, yang pertama kali ditemukan oleh British Antarctic Expedition pada 1910-1913 , dan tak pernah dipublikasikan secara luas setelahnya.

Para ahli yang meneliti Kutub Selatan seringkali menyebut gunung itu dengan “piramida” agar mudah diingat dan memudahkan penyebutan.

Secara spesifik, gunung ini terletak di koordinat 79°58’39.25?S 81°57’32.21?W — di selatan Pegunungan Ellsworth, sebuah kawasan yang disebut Heritage Range. Wilayah ini terkenal karena penemuan fosil-fosil purba luar biasa, seperti trilobit di Periode Cambrian sekitar 500 juta tahun lalu, sebagaimana laporan USGS pada 1972.

“Gunung itu memang tidaklah tinggi, hanya 1.265 meter. Namun, bentuknya yang begitu unik membuatnya istimewa,” kata Mauri Pelto, profesor sains lingkungan hidup dari Nichols College in Dudley, Massachusetts.

Menurut Pelto, erosi es di gunung itu menyebabkan bentuknya lambat laun seperti piramida. Hal tersebut terjadi ketika salju atau air mengisi celah-celah dalam gunung pada siang hari. Ketika malam tiba dan suhu mulai turun, salju membeku dan mengembang, berubah menjadi es.

“Es yang mengembang menyebabkan retakan makin besar,” paparnya.

Puncak-puncak gunung yang mirip piramida sebenarnya banyak bertebaran di planet bumi. Gunung Matterhorn di Pegunungan Alpen, juga Gunung Bulandstindur di Islandia adalah dua contoh yang populer.(sindonews.com)