Hadiri Dies Natalis UNPI, Lumentut Bicara Pendidikan Yang Membebaskan

195

Manado, MP

Walikota Manado, DR. Ir. Godbles Sofcar Vicky Lumentut, S.H, M,Si, D.E.A, yang diwakili Asisten II dr. Nora Lumentut, menghadiri acara pembukaan Dies Natalis yang ke-19, dan Penutupan Pengenalan Kehidupan Kampus (PK2MB) serta Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2019, Universitas Pembangunan Indonesia (Unpi) Manado.

Dalam sambutannya, Lumentut mengatakan pendidikan adalah jalan penyadaran, membebasankan yang terbelenggu oleh ketidaktahuan, meluluskan daya hidup dan kemandirian. Untuk kemudian, dengan berlandaskan kepedulian pengetahuan yang u terserakan, dapat mengupayakan hidupnya, agar berguna bagi diri sendiri dan sesama manusia.

“Sebagai bagian dari dunia pendidikan, Universitas Pembangunan Indonesia Manado, berperan untuk menggedepankan pendidikan yang membebaskan, mendorong dan memberikan ruang bagi kemandirian berpikir sifitas akademika, terutama mahasiswah,” ungkap Asisten II Pemerintah Kota Manado, dr. Nora Lumentu, di God Bless Park Manado, Jumat (30/8).

Lebih lanjut dr. Nora menjelaskan, penting untuk dipahami bawah pendidikan bukanlah sekedar menghafal fakta sejarah, rumus matematika.

“Bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengenal, menafsir, memahami apa yang ada di balik rumus, fakta dan aturan. Agar, di terapakan dalam konteks kehidupan hari ini, supaya dapat menatap dan mengisi hari ini atau hari esok,” katanya.

Menurutnya, selalu ada hal baru yang ditemukan jika mau membuka diri, menerima pengetahuan, dan mencernanya untuk kemudian dibagikan.

“Saya menyampaikan harapan dan ajakan, bawah dengan momen Dies Natalis 2019 ini, Unpi Manado dapat senatiasa berproses, mengolah, memilihara semangat pendidikan yang membebaskan, dan dasarnya tidak lain ialah tradisi berdiskusi. Diskusi pun dilaksanakan dalam semangat keterbukaan, semangat untuk belajar meneliti dan mengelolah, pertanyakan segala sesuatu bukan dalam rangka untuk menolak segalanya, melainkan untuk mengkaji kembali. Mendekonstruksikan pemahaman-pemahaman, sehingga bisa menjadi semangat hidup,” harap dr. Lumentut.

“Galilah kearifan-kearifan luhur, bukan untuk terperangkap dalam kajian, atau memolesnya sebagai doktrin yang membantu, melainkan sebagai pegangan yang kuat, dalam membentuk karakter yang luhur, berintegritas dan tanguh. Agar tidak terseret,” tukasnya. (Roki Taliawo)