Hapus Isu Yerusalem dari Pembicaraan Damai, Palestina Kecam Trump

255
Ilustrasi (ist)

Ramallah, MP

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dan kelompok gerakan Islam Hamas mengecam Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump mengusulkan untuk menghapus isu Yerusalem dari pembicaraan damai Timur Tengah.

Anggota Komite Eksekutif PLO, Ahmad Tamimi mengatakan, pernyataan Trump tentang penghapusan masalah Yerusalem dari perundingan Israel-Palestina tidak berguna.

“Pernyataan Trump mengungkapkan kebijakan AS yang bias terhadap Israel dan kelanjutan ilusi AS, yang meliputi meloloskan perjanjian damai ‘Kesepakatan Abad Ini’ tanpa Yerusalem menjadi ibu kota negara Palestina,” katanya dalam sebuah pernyataan.

“Trump tidak akan bisa menghapus masalah Yerusalem dari hati warga Palestina, Arab, dan Muslim,” imbuh pejabat senior PLO itu seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (22/8/2018).

Sementara itu, Sami Abu Zuhri, juru bicara Hamas di Gaza, menyebut keputusan Trump untuk menyingkirkan Yerusalem dari pembicaraan Palestina-Israel sangat berbahaya.

“Harus ada respon tegas dan ketat Palestina seperti menarik pengakuan Israel, membatalkan kemitraan keamanan dan memutuskan semua kontak dan hubungan dengan pemerintah AS,” kata Abu Zuhri dalam sebuah pernyataan pers.

Para pemimpin Palestina telah berulang kali mengumumkan penolakan kategoris mereka terhadap rencana perdamaian Timur Tengah usulan AS yang mengecualikan Yerusalem, masalah pengungsi dan permukiman Yahudi.

“Kami telah menghapus masalah Yerusalem dari meja perundingan,” kata Trump dalam sebuah pidato di Virginia.

“Selama negosiasi, Israel akan membayar harga yang jauh lebih tinggi karena telah mengambil hadiah yang sangat berharga,” tambah Trump, mengacu pada pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel Desember lalu.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas baru-baru ini menegaskan bahwa pihak Palestina tidak akan mengadakan pembicaraan dengan pemerintahan Trump atau menerimanya sebagai mediator perdamaian sebelum mencabut keputusannya tentang Yerusalem. (sindonews.com)