IKKON Tomohon Angkat Budaya Minahasa Lewat Pertunjukan ‘I Yayat U Santi’

446

Tomohon, MP
Setelah melalui proses riset, pengembangan desain, dan purwarupa, tim IKKON (Inovatif Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara) Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) yang ada di Tomohon menyelenggarakan pameran akhir produk dan pertunjukan bertajuk ‘I Yayat U Santi: The Story of Minahasa’s Highland Warrior’.

Acara ini digelar pada 2 November 2019 di Amphitheater Woloan, Kota Tomohon, Sulawesi Utara.
Mengusung prinsip kolaborasi dan desain berbasis potensi lokal, tim IKKON di Tomohon mengembangkan dua kanal besar produk. ‘I Yayat U Santi’, sebuah pertunjukan seni yang dikembangkan dari tari Kawasaran dan legenda Waraney dan ‘Tou House’, rumah kayu mini yang dikembangkan dari rumah adat Minahasa.

Dalam proses pengembangan produk ini, tim desainer IKKON melibatkan beberapa perajin lokal dan pelaku seni di Tomohon, seperti Happy Salea (perajin bambu di Kinilow), Erick Sumakud (perajin rumah kayu Woloan), Steven Sumual (perajin kulit kayu), Daniel Langitan (penjahit di Wailan), Nando Sylvester (produser), dan Sanggar Roemamti Ezer Motet (paduan suara).

Selain pertunjukan dan pameran karya, gelaran di kaki gunung Lokon ini juga menampilkan beberapa grup musik dari Tomohon seperti Young Minahasa, Rumah Kayu, dan duet Nando Sylvester ft Wulan Pusung & Melky Kandey. Selain itu ada bincang karya oleh tim IKKON dan perajin lokal yang memaparkan proses kreatif dan program IKKON secara keseluruhan.

‘I Yayat U Santi’ merupakan hasil pembacaan ulang dari legenda Waraney di Minahasa kuno. Mereka adalah para pejuang gunung yang bertugas melindungi suku dari segala ancaman luar. Pertunjukan tiga babak ini menggabungkan seni tari, paduan suara, dan film dalam nuansa etnik-magis dengan pendekatan kontemporer. Interpretasi terhadap karakter Waraney dalam tari Kawasaran dan nyanyian paduan suara gereja akan jadi simbol negosiasi budaya yang terjadi hari ini.

Pertunjukan ini melibatkan penari muda dan kelompok paduan suara Sanggar Roemamti Ezer Motet (REM) serta komunitas film di Tomohon.

“Lewat suguhan ini, kami mencoba menampilkan budaya Minahasa dalam bentuk kontemporer. Semoga ke depan, bisa membawa budaya Minahasa ke kancah dunia,” ujar sutradara dan koreografer IKKON Tomohon, Otniel Tasman.

“Tidak ada tujuan menyesatkan atau merendahkan baik sisi agama maupun budaya. Kami mengintegrasikan dua unsur itu justru agar dunia bisa melihat bagaimana Minahasa itu sangat terbuka dan dinamis,” ujar Titah AW, antropolog tim IKKON.

Unsur paduan suara gereja memang dilibatkan dalam pertunjukan sebagai simbol relasi harmonis antara agama Kristen Protestan maupun Katolik yang jadi mayoritas di Tomohon, dengan adat dan tradisi kuno yang diwarisi dari leluhur-leluhur Minahasa.

Sedang di bidang produk, dipamerkan juga prototype rumah kayu ‘Tou House’ yang merupakan pengembangan rumah adat Minahasa yang cocok untuk pasar urban. Tim mempertahankan material dan teknik knock-down’ yang sudah teruji.

Selain itu, juga ada beberapa produk lain seperti aksesoris mode serta berbagai produk home living yang berkesinambungan dengan karakter Minahasa yang telah dirumuskan oleh tim IKKON.

IKKON merupakan program live in designer dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia yang ditujukan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif di suatu kota.

Dalam acara nanti, tampil juga tari Kawasaran dan pemukulan tetengkoran massal serta rekonstruksi sidang adat Woloan yang akan dipimpin oleh Rosevelty Kapoh. Selain didukung oleh BEKRAF dan Pemerintah Kota Tomohon, pameran akhir IKKON ini juga mendapat dukungan dari Djarum Foundation, pihak Amphitheater Woloan, serta Amazing Tomohon.

Harapannya, pertunjukan yang diselenggarakan saat matahari tenggelam akan menonjolkan keindahan gunung Lokon. Ke depan, semoga ini bisa meningkatkan potensi wisata dan ekonomi kreatif di Tomohon.

Untuk menikmati gelaran ini, pengunjung membeli tiket seharga 25 ribu rupiah lewat kontak yang telah disediakan.

“Kami bangga sekali IKKON telah mengangkat budaya asli Minahasa, meski masih prototype dan masih harus disempurnakan. Kami akan terus mendukung, agar pentas ini dibawa hingga ke dunia internasional,” ujar Jimmy F. Eman, Walikota Tomohon sesaat setelah gemuruh tepuk tangan menyudahi pementasan purwarupa ‘I Yayat U Santi’.
(Eka Egeten)