KAMA Minahasa Pukau Penonton Festival Seni Benteng Moraya

585

Tondano, MP

Lantunan musik tradisional hentak Benteng Moraya. Petikan musik kalelon dan makaaruyen turut mewarnai Pagelaran Seni Dan Budaya Benteng Moraya bertema ‘Perkuat Identitas Bangun Budaya Mapalus’ yang digelar di atrium Benteng Moraya, Sabtu (17/11/2018).

Kalelon Makaaruyen (KAMA) Minahasa, salah satu komunitas yang fokus dalam pelestarian musik tradisional kalelon dan makaaruyen, turut menyumbangkan beberapa syair.

“Ada beberapa lagu yang kami lantunkan, diataranya, Bunga Rosi, Dua Kapal, Oras Endo, Yaku Makalukut, Nyanyian Pangerapan, dan beberapa syair lainnya,” ujar Kalfein Wuisan, salah satu penggerak di Komunitas KAMA Minahasa.

Dijelaskan Wuisan, kalelon makaarayun merupakan seni tradisi Minahasa. Didalamnya banyak tersimpan nilai kehidupan yang khas ‘Tou Minahasa’ (Orang Minahasa,red)

“Syair-syairnya menggambarkan tentang bagaimana Manusia berhubungan dengan alam, sesama dan Sang Pencipta,” ulas pemuda yang aktif dalam pelestarian seni budaya itu.

Wuisan juga turut mengapresiasi pagelaran seni budaya benteng moraya. Menurutnya, kegaitan semacam ini merupakan langkah revolusioner dari gerakan kebudayaan Minahasa.

“Salut buat penyelenggara yang menggunakan kearifan Minahasa, Mapalus, dengan mengadakan iven besar seperti ini”, ucap Wuisan

Nada pujian juga datang dari salah satu sastrawan Sulawesi Utara (Sulut), Fredy Wowor.

“Salut buat kawan-kawan yg sudah menghadirkan pentas seni di benteng moraya ini,” ungkap Wowor.

Rasa bangga juga diungkapkap dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Ilmu Budaya (Unsrat) Manado itu kepada KAMA Minahasa.

Apresiasi juga diberikan Wowor kepada KAMA Minahasa yang sudah menghadirkan kembali musik kalelon makaaruyen.

“Selanjutnya terkait dengan terobosan yg dilakukan oleh KAMA Minahasa patut diberi apresiasi, karena telah mengantarkan kemnbali ingatan-ingatan kolektif Tou Minahasa dalam nada-nada dan syair kalelon makaaruyen yang menggugah kembali kebijaksanaan luhur para leluhur bagi generasi hari ini,” jelasnya.

Andrey Tandiapa salah satu penonton mengungkapkan, kegiatan seperti ini harus terus dilakukan karena sangat memberikan edukasi terhadap orang muda Minahasa yang saat ini mulai tidak tahu lagi dengan seni dan tradisi di Minahasa.

“Apalagi ada pementasan-pementasan musik tradisional yang saat ini sudah jarang terdengar. Semoga musik-musik tradisional ini bisa terus terjaga sehingga bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti,” tandas pemuda asal Sumalangka, Tondano itu.

Diketahui, Festival Seni Budaya Benteng Moraya ini diinisiasi oleh Gerakan Muda Benteng Moraya, Sanggar Seni Tumondei, dan Teater Ungu Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) Universitas Negeri Manado (Unima) Tondano.

Selain menampilkan musik kalelon makaaruyen, festival ini juga turut menghadirkan tarian kawasaran, musikalisasi puisi, pentas kolosal, teater dan band festival.