Karim dan Sajad Nekad Bakar Diri

1789

Status Refugee Deteni Afghanistan Ditolak UNHCR

Manado, MP – Kandasnya harapan para deteni Afghanistan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Manado untuk memperoleh status Refugee (pengungsi) dari pihak United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), akhirnya memicu Mohammad Karim bersama rekannya, Sajad nekad melakukan aksi bakar diri, Kamis (07/02).

Alhasil, guna mendapatkan perawatan medis, Sajad dan Karim ikut dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Robert Wolter Monginsidi, Teling.

Keberadaan dua deteni Afghanistan di RS tersebut, menurut Kepala RS, Letkol CKM dr F Alvian Amu sah-sah saja. “Barusan masuk ada dua orang pasien, masuk IGD Rumah Sakit dengan luka bakar. Saya dapat informasi secara singkat bahwa kedua orang tersebut adalah pengungsi Afghanistan yang sudah ditempatkan di Rudenim Manado. Belum tahu kronologinya, dia sengaja bakar diri atau tidak, kita masih menunggu konfirmasi dari pejabat Imigrasi. Tapi intinya RS Robert Wolter Monginsidi milik umum, siap menerima pasien apapun juga,” tutur Alvian.

Sementara itu, lelaki Sajad saat dijumpai awak media menerangkan bahwa aksi bakar diri tersebut nekad dilakukannya, sebagai bentuk protes terhadap pihak PBB, dalam hal ini UNHCR yang telah mengabaikan perjuangan mereka selama puluhan tahun untuk mendapatkan status Refugee.

“Selama ini PBB terlebih khusus UNHCR telah menginjak torang pe hak karna selama 20 tahun ini dorang nda pernah lanjuti, saya ingin bertanya kepada dorang, kenapa?,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Rudenim Manado, Arthur Mawikere menjelaskan kalau belasan deteni yang mengajukan permohonan status ke UNHCR sejak 2000 lalu, hingga kini masih ada yang mendapat penolakan.

Bahkan, Arthur mengemukakan, baru-baru ini pihaknya telah menerima surat dari UNHCR Nomor 19/NESHCR/3057 tentang konfirmasi status UNHCR pertanggal 31 Januari 2019, yang menyatakan belasan deteni Afghanistan di Rudenim Manado, tidak lagi menjadi perhatian UNHCR.

“Meskipun permohonan suaka mereka telah ditolak pada tahap pertama di tahun 2000 oleh UNHCR, pihak UNHCR telah beberapa kali berusaha untuk kembali mewawancara kedua keluarga tersebut dalam rangka mempertimbangkan kembali status mereka berdasarkan kondisi saat ini di Afghanistan,” terang Arthur.

Namun, saat staf UNHCR bertandang ke Manado, sekitar Desember 2016 dan April 2017, dengan tujuan mengambil data yang diperlukan. Namun kedua keluarga menolak diwawancarai.

“Jadi dengan ditolaknya mereka oleh UNHCR kemudian mereka menyerahkan kepada pihak imigrasi, institusi negara yang menangani warga negara asing. Hak mereka atau kebutuhan dasar mereka kami setiap hari berikan seperti makan dan minum,” tuntasnya.

Patut diketahui, gejolak Warga Negara Asing (WNA) di Rudenim Manado melalui aksi demo dan mogok makan, beberapa tahun belakangan ini memang gencar terjadi, tujuan pergerakan mereka hanya untuk mendapatkan status Refugee.

Sebab, dengan diperolehnya status tersebut, mereka memiliki hak untuk dikirim ke Community House yang berada di Makassar atau Jakarta, sebelum dideportasi ke negara tujuan. Dan tidak merasa terpenjara di Rudenim Manado.

Dan kini, belasan deteni Afghanistan di Rudenim Manado harus mengubur mimpi indah mereka ke Australia. Begitu UNHCR mengeluarkan surat penolakan untuk kesekian kalinya.

Berikut ini nama-nama deteni Afghanistan di Rudenim Manado yang tidak lagi menjadi perhatian UNHCR, yakni Mohammad Jacob, Mohammad Karim, Sadrajat, Sara, Akeledori, Nor Mohammad, Amira, Mosolah, Anar, Fatenah dan Ali. (*)

Penulis : Eka Egeten

Editor : Jack Wullur