Kawasaran Seolah Mau Perang, Kadis Kebudayaan Sulut: Buat Kawasaran Lebih Cool

511
Ferry Sangian (Iswan Sual)

Justru Memodifikasi Bisa Menggeser Keaslian dan Makna Sejati Kawasaran

Manado, MP

Dinas Pariwisata Sulawesi Utara (Sulut) berencana memodifikasi tari Kawasaran Minahasa karena dianggap saat ini telah mengalami pergeseran makna dan terkesan bermakna negatif.

Padahal tari tersebut telah menjadi salah satu ikon teratas di Bumi Nyiur Melambai. Nyaris tiap hari tari tersebut dihadirkan sebagai tari penjemput tamu, baik tamu dari dalam negeri maupun turis mancanegara.

Namun, kepada MP, Kepala Dinas Kebudayaan Sulut Ferry Sangian mengatakan bahwa tari Kawasaran, kini tampilannya, sudah seolah-olah  hendak mengajak berperang.

“Yang saya katakan tadi, ada pergeseran pemaknaan dari suatu tarian ini, seolah-olah kita mau perang. Ketika dia bergeser, seolah-olah kita pake untuk tamu seolah-olah kita mau perang, itu pemaknaannya jadi bergeser, seperti tempo dulu kita mau perang,” kata Sangian ketika diwawancarai di kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Sulut pada Rabu (24/10) 2018.

Sangian mengusulkan supaya tarian ini dibuat sedemikian rupa agar tak terkesan garang. Termasuk mengubah peralatan asli menjadi tiruan. Dengan begitu menurutnya, tarian akan benar-benar mengangkat budaya.

“Bagimana caranya kita bikin cool lagi depe apa. Karena alatnya memang alat asli dengan pedang. Bagaimana kita modifikasi alat yang apa boleh dikatakan yang sintetis bukan lagi pedang sehingga maknanya memang benar mengangkat budaya, seni budaya daerah sendiri,” ujar Sangian.

Lebih lanjut dijelaskannya, seharusnya era sekarang ini diisi dengan upaya mencari kehidupan. Bukan perang.

“Era sekarang era bagaimana mencari kehidupan, mengisi kemerdekaan. Bukan lagi untuk berperang. Perang kemerdekaan itu sudah lewat.
Itu yang saya katakan bagaimana pemaknaan benar seni budaya itu,” pungkas Ferry.

Menjawab pernyataan itu, praktisi budaya Minahasa Rinto Taroreh menyebut Kadis Ferry Sangian salah memahami apa Kawasaran itu.

“Dapalia ini bapak gagal paham tentang tradisi Kawasaran. Kawasaran bukan sekedar tarian biasa. Tarian ini bukan mengajak perang. Tapi tarian justru bermakna bahwa siapa pun yang datang di tanah Minahasa, bila bermaksud baik, akan dilindungi. Para penari Kawasaran adalah para pelindung negeri. Mereka ada untuk memberi rasa aman. Mereka hadir untuk menjaga orang-orang dari serangan musuh yang jahat. Kelihatan garang bermakna bahwa mereka manusia pilihan, pemberani dan menjamin keselamatan masyarakat,” tegas Taroreh.

Lebih lanjut seorang pemain Kawasaran Valeri Timporok mengatakan bahwa seharusnya tugas Dinas Pariwisata adalah memberi penjelasan yang benar tentang makna Kawasaran yang sesungguhnya kepada orang dari luar yang tak paham.

“Dinas Kebudayaan sebetulnya jadi pihak yang menjelaskan makna sejati Kawasaran. Supaya para tamu tidak gagal paham. Justru modifikasi akan menggeser makna. Kegarangan Kawasaran bukan berarti suka berperang. Justru bermakna mencegah tindakan kesewenang-wenangan dari luar,” ungkap Timporok. (Iswan Sual)