Legislator Sulut Minta Dinas Kebudayaan Kurangi Perjalanan Dinas

214

Manado, MP
Nada kritik kembali digaungkan legislator gedung cengkih. Kinerja Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) disorot. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulut meminta agar intansi ini lebih mengurangi perjalanan dinas dan mendorong kegiatan-kegiatan di daerah dengan melibatkan para pakar.

“Para pakar budaya yang ada di daerah-daerah lebih kreatif dalam menggelar iven-iven. Dengan anggaran yang minim mereka dinilai mampu membuat kegiatan-kegiatan kebudayaan,” ungkap, Anggota Komisi IV DPRD Sulut, Yusra Alhabsyi, Selasa (15/10), saat rapat dengar pendapat Komisi IV DPRD Sulut dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Sulut.

“Apalagi dengan mengelolah anggaran mereka lebih tau. Dengan menggunakan anggaran kecil mereka bisa, apalagi anggaran yang besar. Saya kira kita di Sulut punya potensi-potensi yang baik,” ucap politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini.

Menurutnya, ada begitu banyak kegiatan budaya di daerah yang bisa dikreatifkan. Seperti program kampung budaya. Hingga kini belum ada hal seperti itu. Bila program Dinas Kebudayaan bagus maka pihaknya memastikan akan mendorong juga lewat anggaran.

“Bisa didorong anggaran. Dan kalau diberikan anggaran, jangan terlalu banyak perjalanan dinas. Tidak terlalu banyak bajalang tapi lebih ke dalam dengan melibatkan pakar-pakar budaya ini,” tandasnya.

Ia menegaskan, kegiatan promosi ke luar daerah memang sangat perlu. Hanya saja paling penting terlebih dahulu, menguatkan apa yang ada di dalam daerah. “Kalau promosi ke luar bisa tapi kita masih belum dalam tahapan tersebut. Budaya apa yang terlebih dahulu perlu dibangun di Sulut, baru kemudian dibawa keluar,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Sulut, Ferry Sangian menyampaikan, memang anggaran yang dimiliki tidak terlalu banyak. Sehingga dana Rp100 juta saja sering jadi rebutan. Dirinya pun menjelaskan, tentang rentetan kegiatan yang sudah dibangun instansi yang dipimpinnya.

“Berkaitan dengan pelestarian budaya. Kegiatan-kegiatan lainnya seperti di perbaikan Gedung Minahasraad atau Kantor DPRD tua akan dijadikan museum demokrasi. Sekarang kondisinya sangat memprihatinkan. Pemeliharaan dan sosialisasi dana sangat besar,” jelasnya.

Kegiatan lainnya seperti akan dihelat festival jejak bambu. Hal itu karena bambu juga merupakan bagian dari kehidupan manusia. “Keberadaannya di Sulut sangat penting untuk umat manusia. Kita akan angkat sampai permainan tradisional. Itu juga diambil dari budaya kita,” pungkasnya. (Eka Egeten)