Legoh: Pencari Kerja Jangan Dipersulit Kampus

328
Fanny Legoh (Iswan Sual)

Manado, MP

Dibukanya kesempatan penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) oleh Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) adalah kabar baik bagi para sarjana.

Namun, sayangnya,  diduga kuat ada oknum-oknum tertentu di perguruan tinggi di Sulut yang menjadikan itu sebagai kesempatan mendulang uang dari mereka yang hendak melegalizir ijasah dan pengurusan administratif lainnya secara ilegal.

Informasi terkait praktik pungutan liar (pungli) dilaporkan langsung oleh para korban kepada MP.

“Dorang ja beking rupa pimpong torang. Dorang beking torang bagityu kwa mo basein bayar.  Ya tu tamang-tamang so lelah, menyerah katu,” kata warga Tondano yang enggan namanya dikorankan ini.

Menanggapi hal itu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Utara
(DPRD Sulut) Fanny Legoh berharap pihak terkait kooperatif dan tak merintangi.

“Kita berharap kepada stakeholder, terkait kepengurusan surat-surat administrasi menyangkut persiapan untuk CPNS, ada kerjasama yang baik,” tegas Legoh di kantor DPRD Sulut pada Rabu (10/10) 2018.

Lebih lanjut dikatakannya, negara membutuhkan pegawai negeri untuk melayani masyarakat. Tambah lagi, para pencari kerja telah melewati banyak persoalan saat kuliah atau sekolah.

“Dibutuhkan orang-orang yang mau mengabdi untuk torang pe daerah. Karena jao-jao dorang datang dari gunung, dari pelosok-pelosok Sulawesi Utara, datang sekolah di Manado kemudian belajar. Orang tuanya di kampung banting tulang dengan keringat untuk harapan anak ini kelak menjadi sarjana di kemudian hari. Sesudah itu cari pekerjaan untuk pengabdian kepada negara,” tutur politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Fanny memperingatkan pula agar mereka sebagai pencari kerja tidak dipersulit. Para pelaku diminta berbuat adil dan berpikir jernih.

“Oleh karena itu jangan persulit anak-anak ini. Secara kemanusiaan, secara kultur dan agama janganlah torang mempersulit anak-anak yang hidupnya sudah sulit, lalu mau dipersulit lagi.”

“Ingat orang-orang yang mengurus ini juga punya anak. Bayangkan kalu kita punya keluarga dipersulit oleh orang lain. Apa anda punya respon? Paling kan kecewa, marah dan sebagainya. Oleh karena itu mari kita berlaku adil. Berpikir benar jernih,” pungkas Legoh.

Fanny menuturkan, perbuatan salah generasi hari ini akan menciptakan generasi berikutnya yang lebih parah.

“Kalu bagitu trus kapan mo maju? Torang ciptakan generasi bagini, generasi berikut akan lebih sadis lagi dorang beking. Oleh karena itu marijo torang berbuat baik kepada orang lain.”

“Apalagi so mengarah ke hal-hal yang Pungli. Itu pun nyanda bagus for kita.
“Map kwa bole yang bersangkutan bole siapkan. Cuma kwa 500 pera. Dengan penuh kasih kemanusiaan, kalau torang banya menolong orang satu kalk orang akan tolong torang. Kalu torang persulit orang, hari ini anda dipersulit. Itu hukum sosial. Hukum alam. Miris ini.”

Legoh mengingatkan agar masyarakat di Sulut mengingatkan selalu ajaran leluhur soal hidup saling menopang dan membantu.

“Jangan lupa kita sebagai orang Manado atau Minahasa itu harus masawa-sawangan, mapalus, maleo-leosan, matombo-tombolan, mari bakutulung. Si tou timou tumou tou,” tutupnya. (Iswan Sual)