Maleman, Tradisi Tua Jaton di Ujung Ramadhan

569

Tondano, MP

Umat Muslim yang ada di Masjid Agung Al-Falah Kyai Modjo Kampung Jawa Tondano (Jaton), Kabupaten Minahasa, lanjutkan tradisi maleman di malam-malam ganjil jelang ahir bulan suci Ramadhan.

Tradisi maleman ini adalah waktu yang sangat istimewa yang diyakini oleh masyarakat Jawa Tondano akan turun malam lailatul qadar. Malam yang syahdu dan hening.

Diyakini, di malam pelaksanaan maleman, Tuhan akan melipatgandakan amal perbuatan manusia. Malam ini juga biasa disebut malam seribu bulan.

Malam ganjil di sepertiga akhir Ramadhan adalah masa yang sangat diistimewakan masyarakat Jawa Tondano di Masjid Agung Al-Fallah Kyai Modjo. Mereka lebih khusyuk dan tawadu beribadah. Terutama kaum usia lanjut. Masjid menjadi pusat kekhusyukan warga Jawa Tondano ini.

“Pada maleman ini warga yakin akan turun malam lailatul qadar, malam yang syahdu dan hening, yang diyakini Tuhan akan melipatgandakan amal perbuatan manusia,” jelas sejumlah warga Kampung Jawa Tondano.

Ustad Atmo Syamsudin, salah satu tetua warga Jawa Tondano mengatakan, tradisi maleman ini sudah dilakukan turun-temurun sejak warga Jaton awal yang diasingkan ke Tondano.

“Tradisi ini sudah dimulai pada zaman penjajahan dan terus dipelihara secara turun-temurun hingga saat ini,” jelasnya.

Pada malam-malam ini warga akan menyambutnya dengan doa. Mereka juga akan menyajikan makanan khas yang akan dibawa ke masjid di dalam ambeng, wadah yang sudah disiapkan untuk membawa sejumlah makanan.

“Nantinya makanan ini untuk disantap bersama usai berdoa,” jelas Syamsudin.

Selain dimakan bersama, khusus untuk anak-anak yang datang ke masjid mengikuti kegiatan buka puasa serta sholat bersama, akan diberikan juga makanan yang sudah disiapkan.

“Kami sangat senang dengan tradisi maleman yang dilaksanakan,” kata Sabri, salah seorang anak yang juga mendapat makanan dalam acara tersebut.

Kegiatan pembagian makanan bagi anak-anak bertujuan agar anak-anak ini nantinya bisa lebih mengenal dan dekat dengan Tuhan.

Tradisi maleman ini terus dipelihara oleh umat Muslim yang ada di Kampung Jawa Tondano meskipun generasi terus berganti. (Kelly Korengkeng)