‘Menggugat’ Puisi Teologis Neno Warisman

305

Kolaborasi Konteks Perang Badar dan Logika Nietzsche

KONTROVERSI yang dihadirkan Neno Warisman dalam temu kangen 212 belum lama ini, telah membuat sisi teologis saya tersentak. Ketika puisi tersebut mengangkat kembali konteks Perang Badar dan menyentuh alam berpikir Friedrich Nietzsche.

Nilai teologis yang terkesan bermuatan politik yang tersadur dalam puisi tersebut, membuat saya bertanya-tanya, apakah Neno hendak menyamakan kondisi Indonesia saat ini dengan masa Muhammad SAW saat menghadapi Perang Badar?

Atau Neno sengaja mengambil penggalan kalimat doa Muhammad SAW, hanya untuk membangun wacana di kelompok 212 bahwa mereka tengah berada dalam konteks Perang Badar versi modern.

Sehingga, kalimat : “Namun, kami mohon jangan serahkan kami kepada mereka yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak, cucu kami dan jangan, jangan kau tinggalkan kami dan menangkan kami. Karena jika engkau tidak menangkan kami, (kami) khawatir Ya Allah, kami khawatir Ya Allah, tak ada lagi yang menyembahmu,” terangkai dalam puisinya.

Dari segi teologis, puisi yang disajikan Neno, seorang Hajah serta Ustadzah untuk mengharapkan kemenangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI pilihan kelompok 212, memang sah-sah saja.

Sebab, pada prinsipnya, setiap pendukung pasti mengharapkan calon mereka bisa menang dalam pemilihan nanti. Namun, Neno yang adalah salah satu tim pemenangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI Prabowo-Sandi, terlalu berani memainkan penggalan doa Muhammad SAW, untuk dimasukan dalam puisi teologisnya, tanpa menggunakan kerangka berpikir universal.

Akibatnya, pemikiran yang tersaji dalam puisi Neno, jika ditelan mentah-mentah, tanpa melewati kajian rasio keimanan, ikut menimbulkan kesan kalau Neno hendak memaksa Sang Ilahi, melalui kalimat : “Karena jika engkau tidak menangkan kami, (kami) khawatir Ya Allah, kami khawatir Ya Allah, tak ada lagi yang menyembahmu.”

Sebenarnya, sebelum kalimat Neno terangkai dalam puisinya, di era 624 Masehi atau pada 12 Ramadhan 2 Hijriah, Muhammad SAW telah melantunkan doa permohonan kepada Sang Ilahi.

Kondisi saat itu, kekuatan pasukan yang dipimpin Muhammad SAW hanya ratusan dengan perlengkapan seadanya. Sedangkan, pasukan kafir Quraiys jumlahnya mencapai ribuan. Rasa tidak percaya diri secara manusia akhirnya menghampiri Muhammad SAW. Karena berpikir kemungkinan menang dalam Perang Badar saat itu jauh dari logika.

Tak pelak, di situasi tertekan itu, Muhammad SAW lantas memanjatkan munajat memohon kemenangan. “Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, datangkanlah apa yang telah engkau janjikan kepadaku, ya Allah, jika Engkau hancurkan kelompok Ahlul Islam, Engkau tidak akan disembah di muka bumi ini.”

Secara teologis, doa Muhammad SAW dalam konteks tersebut, hendak memberikan kesaksian bahwa Sang Ilahi saat itu ternyata tidak meninggalkan kelompok Muhammad SAW dan tak membiarkan serdadu kafir Quraiys membantai seluruh kaum muslimin yang ada di Madinah tanpa sisa.

Dan dari doa Muhammad SAW tersebut, moral bertempur pasukannya langsung naik dari 50 persen menjadi 100 persen. Sehingga, ribuan serdadu Quraiys bersenjata lengkap berhasil ditaklukan.

Persoalannya, konteks Pemilihan Presiden 2019 ini tak dapat dihubungkan begitu saja dengan konteks Perang Badar. Sebab, pesta demokrasi di Indonesia bukanlah perang maha dahsyat yang menentukan nasib agama Islam secara keseluruhan.

Selain itu, calon Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin tak bisa disamakan sebagai serdadu Quraiys bersenjata lengkap. Karena, di sisi Jokowi dan Amin ada banyak Ulama dan Habaib yang mendukung.

Lantas apa maksud Neno menyinggung kembali konteks Perang Badar dan menghubungkannya dengan Pemilu 2019? Atau Neno menginginkan terbentuk agama Islam baru di Indonesia?

Perlu diketahui, jauh sebelum Neno membawa-bawa nama Sang Ilahi dan keagamaan ke ranah politik. Aksi-aksi tersebut telah dikritisi Nietzsche. Filsuf Jerman ini mengeluarkan kerangka berpikir eksistensialisme modern yang ateistis.

Dimana, Nietzsche mengungkapkan bahwa Tuhan telah mati. “Gott ist tot! Gott bleibt tot! Und wir haben ihn getötet!,” yang dalam terjemahan Indonesiannya : “Tuhan telah mati! Tuhan tetap mati! Dan Kita telah membunuhnya!”

Ungkapan tersebut tertuang dalam beberapa bukunya, salah satunya berjudul ‘Die Frohliche Wissenschaft’. Dalam tulisannya, Nietzsche menegaskan bahwa yang membunuh Tuhan adalah manusia itu sendiri.

“Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah? Permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi tuhan-tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu?”.

Secara teologis, kritik Nietzsche dapat dipandang sebagai bentuk kekecewaannya terhadap fenomena kehidupan manusia yang mengaku berTuhan, namun tidak menghargai Tuhan secara utuh. Sehingga, nama Tuhan dengan mudahnya diobral begitu saja kepada sesama manusia lain, hanya demi mencapai kepuasan pribadi manusia itu sendiri.

Situasi politik di Indonesia pun tak lepas dari fenomena yang dikritik Nietzsche. Dimana, nama Tuhan kerap dibawa-bawa untuk melegitimasi kebenaran versinya. Dan ketika kebenaran versinya memperoleh kekuatan dukungan, kebenaran di versi lain malah dijadikan lawan, yang dipandang harus disingkirkan.

Bahkan, Tuhan kerap diseret ke ranah politik, namanya dikambinghitamkan, dituduh patut bertanggung jawab atas segala kesialan manusia. Dalam setiap orasi demi meraih simpati massa, nama Tuhan justru dibawa-bawa. Diobral dengan harga murah.

Parahnya, sempat juga digunakan untuk menghukum dan melaknat orang-orang yang berbeda pandangan politik.

Kenyataan hari ini, dengan mengatasnamakan Tuhan apapun motifnya, orang-orang mudah saja diajak gila berjamaah, marah berjamaah, dan baper berjamaah. Proses ‘pembunuhan Tuhan’ yang dimaksud Nietzsche pun tak terelakan, tanpa kita sadari atau tidak. (*)

Penulis : Rizali Posumah

Editor : Jack Wullur