Mesir Temukan Makam Mirip Waruga

447
Sarkofagus sedang diangkat

Mesir, MP

Dua minggu yang lalu, para arkeolog di Mesir temukan sarkopagus (peti jenasah dari batu) granit hitam besar di Alexandria,  Mesir. Diperkirakan sarkofagus itu sudah tak terjamah selama 2.000 tahun. Bentuk nya mirip kubur batu atau Waruga di Minahasa, Indonesia.

Mungkinkah itu berisi sisa-sisa kerangka pemimpin Yunani kuno Alexander Agung atau  kutukan yang mematikan? Menurut para ahli yang sekarang telah membukanya, keduanya tidak ditemukan.

Kementerian Barang Antik Mesir telah menunjuk komite arkeolog untuk membuka relik yang digali di lokasi konstruksi.

Menurut outlet berita Mesir El-Watan, mereka awalnya mengangkat tutup makam  hanya 5 cm (2 inci) sebelum bau menyengat keluar.

Mereka kemudian membiarkan itu terbuka dengan bantuan dari insinyur militer Mesir.

“Kami menemukan tulang tiga orang, dalam apa yang tampak seperti penguburan keluarga … Sayangnya mumi di dalamnya tidak dalam kondisi terbaik dan hanya tulang yang tersisa,” kata Mostafa Waziri, sekretaris jenderal Dewan Tertinggi Barang Antik.

Untuk mengatasi ketakutan media, bahwa yang mengganggu makam bisa memicu kutukan Firaun, Mr Waziri menyatakan: “Kami telah membukanya dan,  terima kasih Tuhan, dunia belum jatuh ke dalam kegelapan. Aku adalah orang pertama yang memasukkan seluruh kepalaku dalam sarkopagus … dan di sini aku berdiri di depanmu … aku baik-baik saja.”

Meskipun demikian, situs tersebut sekarang telah dibersihkan dari orang-orang lantaran khawatir sarkopagus dapat melepaskan asap beracun yang mematikan, ujar surat kabar milik negara Mesir.

Para ahli mengatakan tiga individu di makam itu mungkin adalah tentara pada masa Firaun. Satu tengkorak dikatakan menunjukkan retakan luka panah.

Sebuah dada pualam, fitur-fiturnya tidak dapat dikenali, juga ditemukan bersama sarkofagus.

Strukturnya hampir dua meter (6,5 kaki) tinggi dan tiga meter panjangnya, dan merupakan yang terbesar dari jenisnya yang pernah ditemukan utuh.

Beratnya 27 ton (59.500 lb), dan diyakini berasal dari periode Ptolemaic awal, yang dimulai pada 323 SM setelah kematian Alexander Agung.

Para arkeolog sekarang akan mempelajari makam secara mendalam untuk menentukan kapan penghuninya hidup, dan bagaimana mereka meninggal.

(BBC)