Mobil JPU Dikepung Massa Usai Sidang

564

Manado, Mangunipost.com – Aksi kepung massa terhadap mobil Jaksa Penuntut Umum (JPU) Remblis Lawendatu ikut terjadi, Senin (11/02) di belakang Pengadilan Negeri Manado, tepatnya di area kawasan Bank Bukopin.

Sejumlah massa merasa keberatan dengan JPU yang memberikan tumpangan kepada terdakwa TI alias Irianto, usai sidang pemeriksaan saksi digelar.

Tak pelak, mobil Honda Civic putih DB 1967 MS itu pun langsung dikerumuni massa, saat hendak keluar dari area parkiran wilayah eks Blue Banter Manado.

Menurut penuturan Musa Wakulu (50-an), pengepungan mobil JPU dilakukan, karena mereka tidak terima, JPU memberikan tumpangan kepada terdakwa.

“Jaksa lindungi. Sudah empat bulan terdakwa tidak ditahan, malah dikasi naik mobil mewah oleh Jaksa. Jaksa sudah terima sogokan, terdakwa mengakui itu kok,” sahut Musa.

Senada diungkap korban FM alias Fatma. “Dia pukul perempuan (dirinya-red) tapi Jaksa malah lindungi. Sudah empat bulan keluarga saya bersabar tapi kok tidak ditahan?,” protesnya.

Aksi pengepungan massa berhasil teratasi, setelah pihak kepolisian setempat turun ke lokasi. Dan melakukan pengamanan.

Sebagaimana diketahui, dalam berkas perkara nomor 15/Pid.B/2019/PN Mnd. Terdakwa Irianto telah didakwa bersalah atas aksi penganiayaan yang dilakukannya terhadap korban Fatma, Jumat (07/09/2018) lalu, di Masjid A-Nur, Kelurahan Teling Atas Lingkungan Empat, Kecamatan Wanea.

Diterangkan dalam surat dakwaan, semua bermula ketika korban Fatma yang sedang berada di rumah, tiba-tiba mendengar ada keributan di Masjid A-Nur, dekat rumahnya.

Penasaran, korban kemudian keluar dari rumahnya dan menuju lokasi keributan, guna melihat apa yang terjadi.

Begitu tiba di Masjid A-Nur, korban langsung naik ke lantai dua, namun ikut dihalangi terdakwa Irianto, dan berkata “Keluar kamu, kamu tidak tau apa-apa”. Tapi, korban berusaha terus masuk,  sehingga terdakwa marah dan  memukul korban dengan cara mengayunkan tangan kanannya yang terkepal ke arah wajah korban.

Pukulan terdakwa lantas mengenai pipi kiri korban. Merasa keberatan dengan aksi terdakwa, korban ikut menempuh jalur hukum dengan melaporkan terdakwa ke pihak Kepolisian.

Dan berdasarkan Visum Et Repertum Nomor : 905/VER/IX/2018 yang dibuat dan ditandatangani Dr Rahmat Hutaean di Rumah Sakit Bhyangkara, hasil pemeriksaan menunjukan bahwa korban memang mengalami tanda-tanda kekerasan, yang membuat memar dan bengkak pipi kirinya, dengan warna kemerahan ukuran tiga centimeter kali tiga centimeter.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya itu, terdakwa Irianto kini terjerat pidana dengan Pasal 351 ayat (1) KUHPidana. (*)

Penulis : Rizali Posumah

Editor : Jack Wullur