NAPAK TILAS AWALI FESTIVAL WANUA

708

Warembungan, Mangunipost.com – Festival Wanua Warembungan yang dilaksanakan di Warembungan dibuka dengan kegiatan Napak Tilas. Kegiatan ini merupakan upaya untuk menapaki kembali jejak leluhur Minahasa.

Napak Tilas dibuka dengan Upacara “Mengaley” meminta pertolongan tuntunan dari yang Maha Kuasa yang dilaksanakan di rumah Tetuah Adat Warembungan, Rinto Taroreh, di “Wale Pahemungan Ne Waraney”, Warembungan, kamis (07/03) pagi. Berbagai komunitas seni dan budaya di Tanah Minahasa, turut serta dalam kegiatan tersebut.

Sekitar pukul 08.00 pagi, rombongan menuju ke lokasi Wanua Ure Lotta, dan melakukan upacara adat Mahelur. Usai dari tempat tersebut, rombongan yang dipimpin Tonaas Rinto Taroreh, menuju ke Perkebunan Tawaang. Disana ada situs batu Opo Warere sebagai penanda perjalanan leluhur Minahasa.

Dari perkebunan Tawaang, rombongan lanjut menuju ke Rano Oki. Situs tersebut dahulunya sebagai tempat persinggahan dan sumber air minum dari para leluhur Minahasa.

Usai berziarah di Rano Oki rombongan meneruskan berjalan hingga sampai di sebuah punggung gunung yang rata. Tempat itu disebut kawasan Pinopoan, yang memiliki arti rata.

Rombongan kemudian menuju ke pancuran Sasarongsongan. Situs ini termasuk salah satu situs sumber air tanda perjalanan leluhur Warembungan.

Usai istirahat sejenak rombongan berjalan mengikuti kawasan Lewet dan mendaki ke Patalingaan, yang artinya ‘tampa ja ba dengar akang’. Dari situ rombongan ke situs Lalalesan, kemudian turun menuju ke Watu Tumani, di tengah kampung Warembungan.

Rmbingan dihentar tarian Kawasaran sampai ke Watu Tumani. Di sana, rombongan melakukan upacara adat Mahelur, yang juga menandai selesainya rangkaian napak tilas.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Samratulangi Manado, Fredy Wowor, memberikan penjelasan terkait kegiatan Napak tilas. Ia mengungkapkan bahwa dengan napak tilas ini, kita dapat berefleksi bagaimana para leluhur Warembungan membangun kampung ini, yaitu, untuk kelanjutan dan kebahagiaan hidup sampai selama-lamanya.

“Dengan menulusuri jejak leluhur, torang mengalami kembali pengalaman bagaimana para leluhur Warembungan membangun kampung ini, yaitu, untuk kelanjutan dan kebahagiaan hidup sampai selama-lamanya, berkat yang melimpah dalam pencarian hidup dan kelanjutan kehidupan sebagai manusia. Menjadi manusia yang menyatu dengan semesta.” tutur Wowor.

Tetua Adat Minahasa, Rinto Taroreh, turut memberikan penjelasan terkait apya yang dilakukan. Menurut Taroreh, upaya untuk pergi, melihat langsung, dan menjejaki ulang jejak leluhur, merupakan upaya untuk membangkitkan kembali nilai-nilai luhur yang ditinggalkan.

“Napak tilas ini harus ada karena terkait dari sejarah lahirnya negeri Warembungan, jadi dengan torang napak tilas, torang mengingat, kita pergi dan melihat langsung, dan menjejaki ulang jejak leluhur, dengan ini kita membangkitkan kembali nilai-nilai luhur yang ditinggalkan, seperti maleos-leosan, masawang-sawangan, dan dengan ini penanda hubungan antara kita saat ini dan leluhur kita, dengan kegiatan ini akan membangun hubungan kita semakin kuat dengan orang tua kita dan terutama leluhur,” jelas Tonaas Rinto.

Ketua panitia Festival Wanua, Amri Kalangi berharap dengan napak tilas yang berjalan lancar dapat menjadi rangkaian kesuksesan Festival Wanua.

“Kegiatan Napak Tilas ini adalah rangkaian dari Festival Wanua ini, dan kesan saya ini kegiatan ini sangat baik, terutama dalam kebersamaan, itu sangat positif, dan semoga leluhur menyertai kita sampai kegiatan selesai,” ucapnya.

Napak tilas merupakan kegiatan pertama, dari beberapa kegiatan Festival Wanua. Festival yang akan diselenggarakan selama tiga hari ini akan berlangsung dari tanggal 7 sampai 9 Maret 2019. Pada Jumat, 8 Maret, akan diisi dengan Seminar Budaya mengangkat topik tentang Wanua.  Sementara tanggal 9 akan menjadi puncak acara. Diisi dengan kegiatan Parade Budaya, Pentas Seni Budaya dan Upacara Adat. (*)

Penulis: Juan Ratu
Editor: Kalfein Wuisan