Panen Raya, Petani Cengkih Merugi

336

Kombi, MP

Masa panen raya cengkih mulai terasa di Sulawesi Utara. Namun gusar melanda para petani. Komoditi andalan mereka jatuh harga.

Rudi Korompis, petani cengkih Desa Rerer, Kecamatan Kombi, Kabupaten Minahasa, mengaku harga cengkih kian tak realistis.

“Harga sudah 72 ribu rupiah per kilo gram. Terus turun. Kalau sudah begini, petani pasti rugi,” keluh Korompis, Jumat (14/6).

Biaya perawatan sebelum panen hingga masa panen diakui sudah tidak sebanding dengan pendapatan.

Hal yang sama diungkapkan Adri Solang, petani cengkih Desa Tandengan, Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa. Ia membenarkan jika harga cengkih kini sudah tidak sebanding dengan pengeluaran petani.

“Pengeluaran petani itu besar sepanjang tahun. Pembersihan kebun rutin, pemupukan, penyemprotan untuk mengatasi hama, sampai pembersihan sebelum panen. Tidak sebanding lagi dengan harga sekarang,” ketusnya.

“Sekarang pemetik dibayar 4.000 rupiah per liter. Kalau 5 sampai 6 liter dijemur jadi 1 kilo gram kering dengan harga 72 ribu rupiah, potong ongkos sepanjang setahun, biaya panen sampai proses pengeringan, coba hitung berapa keuntungan petani. Jelas kita rugi,” papar Solang.

Ia berharap, pemerintah bisa mengintervensi agar harga cengkih tidak terus turun. Sebisa mungkin dapat membantu petani untuk kembali menaikkan harga cengkih. (Kelly Korengkeng)