Pemerintahan OD-SK Terlalu Terkonsentrasi ke Infrastruktur, Palawija Pedesaan Kurang Diperhatikan

177

Manado, MP

Penggodokan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan dimulai. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut) mendesak agar prioritasnya ke infrastruktur.

Namun ada gaung lantang terhadap roda pembangunan di bumi Nyiur Melambai ikut terdengar. Realisasi program disebut hanya terpaku pada infrastruktur. Sementara, produksi desaan dinilai kurang diminati.

Nada lantang pun terdengar dari legislator Sulut, Meiva Lintang, saat pembahasan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Sulut dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut.

Meiva pun menyampaikan, dua hal yang perlu diperhatikan yakni penanggulangan kemiskinan dan peningkatan sumber daya manusia (SDM). “Ini dua hal dalam rangka mencapai RPJMD (Rencangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah). Visi dan misi OD-SK. Ini kita belum bicara program. Ini bicara KUA (Kebijakan Umum Anggaran). Apakah pernah diteliti faktor penyebab kemiskinan,” pungkasnya.

Menurutnya, pemerintah terlalu berorientasi kepada infrastruktur. Padahal palawija yang ada di desa dahulunya menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ini baginya, tidak mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

“Kita berorientasi kepada infrastruktur sedangkan untuk bidang-bidang palawija dan sebagainya tidak kita pedulikan. Kalau ini menjadi sumber pendapatan lebih bagus. Kalau desanya kaya otomatis kotanya kaya. Kalau kotanya kaya belum tentu desanya kaya. Ini bukan lagi diteliti tapi jadi bukti,” ujarnya

Sekarang ini menurutnya, komoditi yang ada di Sulut sedang mengalami masalah. Hal ini diakibatkan turunnya harga. Sementara, anggaran pemerintah baginya kurang mendukung akan masalah tersebut. “Sekarang ini sementera berteriak tentang turunnya harga ini, turunnya harga ini. Tapi APBD kita selama hampir 5 tahun ini tidak menjawab itu,” paparnya.

Anggaran yang tercantum dalam program APBD dinilai tidak menjawab ekonomi pedesaan dan peningkatan di bidang palawija. “Sebelum retribusi kendaraan bermotor sangat kecil, kebanyakan retribusinya dari desa ke kota itu didapat dari pertanian,” tandasnya. (Eka Egeten)