Pengrusakan Situs, Indikator Kurangnya Pengetahuan Berbudaya

324

Manado, MP

Keberadaan situs budaya waruga kian memprihatinkan. Maraknya pengrusakan atau penjarahan terhadap salah satu situs tua tou (Orang, red) Minahasa ini, jadi bukti.

Teranyar, penjarahan terhadap situs waruga kembali terjadi di Desa Kaima, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara (Minut).
Sebanyak 10 waruga ditemukan dalam kondisi hancur. Hal ini mencuat dalam berbagai postingan yang beredar di media sosial (medsos).

Sontak memantik respon dari berbagai pihak. Pegiat budaya Minahasa, Tonaas Rinto Taroreh saat mengungkapkan, dirinya sangat menyayangkan aksi pengurusakan situs yang semakin tak terkontrol saat ini.

“Sangat disayangkan, waruga itu merupakan tempat peristirahatan para leluhur. Lebih dari itu, waruga merupakan situs penanda peradaban Tou (Orang, red) Minahasa. Dia (waruga,red) mengandung nilai. Jadi sudah sepantasnya kita jaga, bukan justru orang Minahasa sendiri yang merusaknya,” ungkap Taroreh yang selama ini fokus dalam upaya pelestarian budaya Minahasa.

Menurutnya, pengrusakan situs budaya ini juga menjadi ‘warning’ atas kurangnya pengetahuan dan pemahaman terhadap kebudayaan.
“Kesadaran untuk menjaga situs tidak bisa kita gantungkan kepada orang lain tapi menjadi tanggung jawab tiap-tiap pribadi,” katanya.

“Pengrusakan yang tak terkontrol ini juga menjadi indikator lemahnya pengetahuan dan pemahaman tentang budaya, sehingga masih banyak masyarakat yang tidak paham dengan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap situs budaya,” jelasnya sembari menambahkan jika kesadaran pribadi menjadi kunci. (Eka Egeten)