Perusakan Waruga Ancaman Peradaban Orang Minahasa

762

Manado, MP

Perusakan situs sejarah budaya di Sulawesi Utara (Sulut) kian memprihatinkan. Teranyar, masyarakat dihebohkan dengan pembongkaran waruga (makam tua), di Desa Kaima, Kabupaten Minahasa Utara (Minut).

Reaksi tegas pun meletup dari sejumlah elemen masyarakat Minahasa, termasuk para pegiat budaya.

Hal itu seperti yang terlontar dari budayawan Sulut, Ivan R. B Kaunang. Menurutnya, perusakan situs menunjukkan lemahnya pendidikan kita.

“Dari aspek pendidikan, muatan lokal (Mulok) hal seperti ini tidak diajarkan. Semuanya hanya melulu menari (Maengket, Kawasaran) dan bermusik (Kolintang dan Musik Bambu). Padahal situs waruga dan situs batu (situs budaya, red) lainnya di Minahasa adalah surat-surat tradisi dan sejarah yang hidup, yang mampu memberikan informasi jiwa zamannya,” kata Kaunang kepada mangunipost.com, Sabtu (21/6).

“Waruga memberikan keterangan informasi lisan, dari tampak wujudnya mewakili sebuah peradaban yang pernah dilewati (bangsa) Minahasa. Situs waruga dapat bercerita tentang banyak hal, di antaranya bercerita tentang diri kita, siapakah kita, asal usul suatu kampung/desa, sejarah suatu peristiwa. Dengan demikian situs apapun itu, terlebih waruga, dia menyimpan data sebagai penanda tentang sesuatu. Nah, kebajikan itu dirusak maka bisa jadi keterputusan kita tentang masa lampau kita,” terangnya.

Jadi sebuah waruga terbanyak ditempatkan di suatu tempat dengan suatu maksud yakni batas desa/pemukiman tua, atau karena di situ ada hal yang perlu tetap dijaga seperti hutan lindung penghasil sumberdaya desa/manusia untuk sandang pangan, kelangsungan suatu komunitas karena mata air dan lain sebagainya.

“Pengrusakan situs waruga menunjukkan keterputusan akar sejarah dan budaya, tercerabutnya budaya lisan, budaya atau tradisi leluhur yang dapat memberikan pembedaan kita dan mereka. Sayang sungguh sayang jika masyarakat sekitar yang melihat tidak satupun yang melarang atau menyelamatkannya,” papar doktor kajian budaya ini.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tahu menghargai sejarah masa lampaunya dan mengigatkan kita hidup hari ini, generasi kini ada karena ada peradaban sebelumnya. Dan peradaban hari kini akan menentukan peradaban yang diletakkan hari kini,” tuturnya.

Ia menegaskan, perang di masa depan disebut perang budaya. Salah satunya menghancurkan masa lalu suatu komunitas atau bangsa sehingga generasi selanjutnya tidak memiliki identitas kelampauannya.

“Menentukan masa depan tanpa mengesampingkan masa lalu niscaya hari depan lebih maju dan sejahtera. Pengalaman menjadikan kita bijaksana,” tandasnya. (Eka Egeten)