Ramaikan HUT Tondei raya, Sanggar Tumondei Gelar Ajang Seni Budaya Minahasa

600
Pengurus STMS, keturunan pendiri desa dan pemerintah desa bergambar bersama (Iswan Sual)

Amurang, MP

Upaya pelestarian seni budaya Minahasa terus digalakkan masyarakat di desa Tondei raya Kecamatan Motoling Barat Kabupaten Minahasa Selatan Provinsi Sulawesi Utara.

Bertempat di Balai Pertemuan Umum (BPU) Tondei pada Sabtu (20/10) 2018 para pegiat dan pelestari yang tergabung dalam Sanggar Tumondei Minahasa Selatan menggelar sejumlah penampilan sarat budaya lokal.

Sugguhan hasil karya tou Malesung (Minahasa, red) tempo dulu tersebut diantaranya adalah tari Kawasaran, tari Si Patokaan, tari Katrili, drama Tumani, Kalelon, Mareng I Lele atau Marantong dan vokal grup lagu-lagu pop daerah.

Ketua Sanggar Tumondei Minahasa Selatan (STMS) Yanli Sengkey dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan yang sarat dengan nilai-nilai budaya luhur itu merupakan rangkaian dua kegiatan hari ulang tahun dari desa Tondei raya ke-105 tahun dan STMS ke-6.

“Kegiatan ini torang beking terkait deng Hari Jadi ro’ong atau desa Tondei dan Sanggar Tumondei. Torang beking ini sebagai upaya mo wariskan ingatan pa generasi muda,” kata putra Adri Sengkey dan Helly Paat ini.

Di tempat yang sama Sengkey menyampaikan juga bahwa Sanggar Tumondei merupakan organisasi yang bertujuan menggali, mengembangkan dan melestarikan nilai-nilai mulia warisan leluhur.

“Yang Sanggar Tumondei beking ini adalah upaya Tumondei atau mencari kembali nilai-nilai yang baik warisan leluhur. Pe banya tu bagus tu dorang, orang-orang tua, da kase tinggal for torang. Kalu nda dorang, torang nda ada hari ini,” ujar Yanli.

Kegiatan yang diberi tema ‘Sa Cita Tumondei Ya Mauli-ulit’ ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Desa Tondei melalui sekretaris desa Stary Simbar. Dikatakannya, apa yang diupayakan oleh Sanggar Tumondei patut diapresiasi dan disyukuri. Apalagi menampilkan tari Kawasaran yang mengandung nilai patriotis dan kaya makna.

“Selamat Hari Jadi ke-6 untuk Sanggar Tumondei yang sudah berkarya dalam seni budaya. Tadi ditampilkan Kawasaran. Tari ini adalah tari yang mencerminkan perjuangan para leluhur dalam menjaga tanah. Pengorbanan mereka patut dikenang dan dijadikan falsafah hidup generasi muda,” tutur Simbar.

Ketua panitia pelaksana Arjuna Wongkar menuturkan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan rutin tahunan yang terus mendorong masyarakat agar tak meninggalkan tradisi positif dan ingatan masa lalu yang inspiratif.

“Musti torang beking trus tu kegiatan ini spaya tu masyarakat terlebih generasi skarang tetap inga tu hal luar biasa di masa lalu,” pungkas Wongkar.

Dikatakannya lebih lanjut, kegiatan ini dirancang dengan konsep tradisi Minahasa.

“Tiap taun Sanggar Tumondei pertahankan tu konsep full tradisi Minahasa. Menu khas Minahasa, sama deng makanan ubi, nasi kaboro, ro’do, rangsak, winongos. Minuman, ada saguer lei.  Makang di meja dialasi daun. Diusahakan kostum pakaian khas daerah. Yang unik, di baliho, selain aksara latin, juga memakai aksara Malesung,” pungkas pemuda yang biasa disapa Conco ini.

Ajang ini turut didukung oleh Komunitas Pecinta Alam Tumondei (KPAT), SMP Kristen Tondei, SD Inpres Tondei, SMK 1 Motoling Barat, SMP Sinonsayang di Tiniawangko dan Kelompok Tari Lolombulan Sinonsayang (KTLS), komunitas seni budaya dari Sanggar Seni Ranoiapo dan Pinaesaan Tontemboan (Piton).

Turut hadir memeriahkan antara lain komunitas Sanggar Patengaan Tenga, Tekzas, Azta dan Lalang Rondor Malesung.(Iswan Sual)