Sastra Embels Berharap Dukungan Pemkot Manado

440
Komunitas Sastra Embels bersama Kepsek Enoch Saul, seniman pendamping Alfrits 'Ken' Oroh, Director Komunitas Penulis MAPATIK Rikson Karundeng dan sejumlah penulis dari Wale 11.
Komunitas Sastra Embels bersama Kepsek Enoch Saul, seniman pendamping Alfrits 'Ken' Oroh, Director Komunitas Penulis MAPATIK Rikson Karundeng dan sejumlah penulis dari Wale 11.

Manado, MP

Menghadirkan sebuah karya berjudul ‘Dunia Cita’, menjadi kegembiraan tersendiri bagi sejumlah siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 14 Manado. Buku berisi bunga rampai puisi dan cerpen ini adalah kebanggaan bagi 14 siswa penulis yang tergabung dalam komunitas Sastra Embels.

Ketua Komunitas Sastra Embels, Rala Yakobus mengaku gembira bisa melaunching karya mereka. “Kesan kami sangat luar biasa karena baru pertama kali ikut peluncuran buku karya sendiri. Ini pertama kali karya kami dibukukan,” tuturnya.

Dijelaskan, kebanyakan dari mereka memulai proses kreatif dari nol. “Sebenarnya banyak kawan-kawan yang tidak mengenal sastra, tidak mengenal puisi. Ini pertama kali teman-teman belajar menjadi penulis. Bersyukur memang ada program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Dinas Pendidikan Manado,” ungkap Yakobus.

Ia mengungkapkan, di awal program sebenarnya ada 60 siswa yang ikut. Namun seiring perjalanan waktu, hanya 14 siwa yang tersisa. “Banyak yang keluar, sudah tidak aktif ikut kegiatan. Hanya 14 orang yang bertahan. Soal nama ‘Embels’ itu memang diambil dari SMP 14. Kebetulan kami juga yang tersisa 14 orang. Tapi itu ada ceritanya juga. Di awal kami pernah belajar dengan Ka’ Ken di belakang sekolah. Di situ ada teratai yang bunganya berjumlah 14. Satu-satunya di taman itu yang keluar depe bunga. Waktu itu komunitas kami belum ada nama. Kami pun terinspirasi untuk menamakan diri Sastra Empat Belas atau Sastra Embels,” terangnya.

Dukungan dari guru dan Kepsek SMPN 14 diakui sangat memotivasi para siswa di Sastra Embels. “Kepsek dan para guru selalu minta jangan patah semangat, terus kembangkan diri, jangan menyerah walau sudah kelelahan beraktivitas di sekolah. Dukungan orang tua juga luar biasa. Pas launching buku kami bisa bawa makanan di sekolah, beli seragam komunitas karena dukungan mereka,” kata Yakobus

“Kalau saya, jujur awalnya orang tua pandang sebelah mata. Menulis diam-diam, orang tua tidak pernah tau. Waktu bilang ke orang tua saya ikut belajar menulis sastra, mereka menjawab santai. Tapi pas sudah akan luncurkan buku, orang tua semakin memberi dukungan,” tuturnya dengan senyum.

GSMS telah memberi kesempatan kepada Rala Yakobus dan kawan-kawan untuk tampil dalam berbagai iven pembacaan puisi, termasuk di Kantor Walikota Manado. Mereka pun berharap, ke depan akan mendapat perhatian serius dari pemerintah.

“Harapan saya, apa yang dibuat para siswa seperti ini bisa dipandang oleh pemerintah. Misalnya, buku seperti ini dibantu cetak lebih baik, urus ISBN, masukkan ke perpustakaan sekolah sehingga bisa memberi inspirasi bagi teman-tema yang lain. Ini kan baru tahap awal. Kalau dibantu, kami yakin bisa menjadi sesuatu yang lebih,” ucap Yakobus sembari menuturkan jika biaya cetak buku mereka kali ini merupakan buah kerja keras dari menjual pisang goreng.

Diketahui, Jumat akhir pekan lalu SMPN 14 Manado menggelar dikusi dan peluncuran buku Sastra Embels, ‘Proses Kreatif’. Hadir sebagai pembicara, Rikson Karundeng. Di momen tersebut, penulis yang juga Director Komunitas Penulis MAPATIK itu memberikan apresisi terhadap karya yang telah dihasilkan para siswa di Komunitas Sastra Embels. Ia pun memberi banyak tips dan motivasi bagi para penulis muda di Sastra Embels agar bisa semakin maju dalam berkarya.

Kegiatan yang didukung penuh Kepsek Enoch Saul dan para guru SMPN 14 Manado ini juga turut dihadiri sejumlah seniman dalam Komunitas Wale 11. (*)

Penulis; Eka Egeten

Editor: Ronni Somba