Sawit Ancam Kelapa Sulut

287

Manado, MP

Ancaman serius mengintai kelapa, komoditas andalan Sulawesi Utara (Sulut). Kehadiran sawit jadi pemicu.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulut, Eddyson Masengi mengungkapkan, penanaman kelapa sawit harusnya mempertimbangkan kondisi geografis. Apa memungkinkan di Sulut ditanami sawit.

“Kelapa sawit butuh lahan luas sekali, dia beda dengan kelapa kita (Sulut). Sawit prosesnya beda dengan kelapa. Kelapa bisa tahan sampai berbulan. Sawit harus segera diproses, kalau tidak busuk. Makanya perlu harus dengan pabrik. Mesti berimbang kos dan produk,” pungkasnya.

Masalah ini akan ditanyakan ke Dinas Perkebunan. Menurutnya, izinnya dikeluarkan kabupaten dan kota. “Kita akan tanya ke dinas perkebunan. Kalau cuma 1.000 hektare tidak cocok ini sawit. Kalau memberi izin harus ditanya. Jangan cuma cari kredit dorang. Mereka akan rugi dan apakah cocok kalau di Sulut,” tegasnya.

Menurutnya sangat ironis, sebab di satu sisi pemerintahan OD-SK terus berusaha menyelesiakan harga kelapa. Belum berakhir masalah kopra sudah masuk kelapa sawit di Sulut.

“Kita sementara berupaya meningkatkan pendapatan petani kopra. Karena masih berkutat di harga murah. Masih bermasalah ini kelapa sekarang sudah muncul lagi ini sawit,” ketusnya.

Apalagi baginya, simbol Provinsi Sulut adalah Nyiur Melambai. Bila ini terjadi maka orang akan berlomba tebang kelapa dengan demikian sudah tidak ada lagi kelapa. “Saya rasa gubernur tahu. Kalau dia kase izin yang di Tatapaan (Minsel, red),” ujar wakil rakyat daerah pemilihan Minsel-Mitra ini.

Selama ini menurut dia, hanya dibahas lahan yang ada di Bolaang Kabupaten Bolmong. “Bisa jadi perusahaannya sama sehingga lahannya cukup. Tapi kita harus ada kebijakan lain di Sulut. Karena kita kan selama ini kan lebih kepada kopra nah kalau sudah ada sawit? Kalau diberikan izin lagi ini sawit, mati semua ini kopra,” tandasnya. (Eka Egeten)