Usai ‘Patahkan’ Polsek Tuminting, Hinonaung dan Leihitu Praper Polsek Sario

153

MANADO, ManguniPost.com – Penanganan kasus yang diduga inprosedural di tingkat Polsek jajaran Polresta Manado, kembali bermuara ke Pengadilan Negeri (PN) Manado.

Dimana, usai memenangkan sidang praperadilan (praper) atas Polsek Tuminting, kali ini advokat Franklin Hinonaung dan Zemmy MA Leihitu menggiring aksi penanganan hukum Polsek Sario.

Saat dihubungi awak media, Juru Bicara Hakim PN Manado, Hakim Imanuel Barru tak menepis kalau sidang praper dengan nomor 2/Pid.Pra/2020/PN Mnd tersebut sementara berproses.

Terpisah, Hinonaung dan Leihitu ketika dikonfirmasi menuturkan kalau langkah praper ini ditempuh, karena menilai proses hukum Polsek Sario terhadap kliennya, yakni CM alias Corneles dan AAM alias Aprianus terkesan prematur.

“Tindakan penyidik Polsek Sario menetapkan klien kami sebagai tersangka terlalu berlebihan. Apalagi, dalam perkara ini pelapor bersikeras agar klien keluar dari rumah sedangkan pembayaran belum lunas. Dan pada tanggal 28 Desember 2019 anggota dari Polsek Sario datang ke rumah klien dan tanpa disertai surat panggilan,” tutur Leihitu.

Menariknya lagi, Hinonaung dan Leihitu menjelaskan bahwa saat klien mereka tiba di kantor Polsek Sario, Corneles langsung ditetapkan sebagai tersangka.

“Ini jelas rancu dan sangat prematur. Dimana tahap lidiknya, dimana tahap gelar perkaranya, dimana tahap sidiknya, dimana tahap evaluasi penyidikannya,” ungkap Hinonaung.

Tak hanya itu, dirinya juga menerangkan bahwa pihak Polsek Sario terindikasi telah melanggar aturan mekanisme KUHAP dan PERKAP. “Klien kami tidak pernah dipanggil melalui surat panggilan oleh penyidik, dan ini bertentangan dengan ketentuan Pasal 112 ayat 1 KUHAP,” jelasnya.

Lebih dari itu, Hinonaung dan Leihitu melihat penanganan hukum yang dilakukan Polsek Sario terkesan sangat dipaksakan.

“Penyidikan yang dilakukan oleh penyidik adalah suatu rekayasa belaka yang terkesan dipaksakan untuk memenuhi keinginan pihak lain, bukan berdasarkan KUHP dan KUHAP. Sebab tidak didasarkan oleh bukti-bukti yang cukup,” tandas keduanya. (*)

Penulis/Editor : Jack Wullur