Wakil Rakyat Sulut Sorot Uang Komite Sekolah

265
Grace Punuh (Iswan Sual)

Manado, MP

Tarik menatik terkait dana komite kembali dikorek Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut). Persoalan ini ikut dibahas ketika penghuni Gedung Cengkih mendapat laporan adanya pungutan yang tak jelas dari sekolah.

Hal tersebut ditanyakan Anggota Komisi IV DPRD Sulut, Rita Manoppo dalam rapat dengar pendapat dengan Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulut. Ketika itu dirinya mengungkapkan, kalau dana itu harusnya diberikan secara sukarela. Ia berharap, uang dari siswa itu jangan dilakukan secara kontinu di setiap bulan.

“Bila setiap bulan dilakukan sudah seperti Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP). Kalau juga diberikan diharapkan, apa sih yang dibuat sekolah tesebut. Misalnya dibuat pagar. Harus dibangun sarana dan prasarana apa. Tapi jangan tiap bulan,” ungkap Manoppo dalam pembahasan, Kamis (25/10), di ruang rapat komisi IV.

Ia mengaku, sempat dikontak orang tua murid terkait hal ini. Mereka mengeluhkan pula tentang pungutan-pungutan di kegiatan ekstrakurikuler.

“Ini harus jadi perhatian kadis (kepal dinas) yang ada supaya tidak jadi masalah di kabupaten kota. Saya di WA (whatsapp) oleh orang tua murid terkait pungutan-pungutan ekstrakurikuler yang anggarannya cukup besar. Mereka mengeluh dengan itu. Ini jadi bagian kita semua untuk menata proses belajar mengajar di Sulut,” kunci anggota dewan provinsi (Deprov) daerah pemilihan Bolaang Mongondow Raya ini.Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulut, Grace Punuh menjelaskan, mengenai pungutan pihaknya akan terus berbenah. Kalau ada uang komite sekolah diharapkannya tidak melibatkan kepala sekolah (kepsek). Supaya nanti tidak ada kesan buruk.

“Kepsek jangan masuk campur komite sekolah. Yang kita harapkan silahkan bantu sekolah tapi jangan libatkan kepsek. Sumbangan itu kalau dari sekian anak yang menyumbang hanya sekian yang memberi, tidak bisa dipaksa. Kalau dia sudah rutin dan diharuskan, itu ombudsman anggap tetap pungli (pungutan liar),” pungkasnya.

“Pelayanan publik kita paling rendah tapi kita siap berbenah. Kita harus melakukan perubahan secara radikal,” tutupnya. (Iswan Sual)