WARUGA MAU KE MANA

517

Gelar Diskusi Ilmiah, AMAN SULUT Gandeng FIB UNSRAT

MANADO, MP

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulawesi Utara (SULUT) bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) menggelar diskusi ilmiah dengan tema ‘Waruga Mau Ke Mana’. Diskusi Ilmiah ini dilaksanakan pada Senin (13/8) di Ruang Teater FIB UNSRAT.

Diskusi dibuka secara resmi oleh Drs. F. R. Mawikere, M.Hum, MA, selaku Dekan FIB UNSRAT. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari para narasumber.

Hadir sebagai narasumber, Drs. F. R. Mawikere, M.Hum, M.A, selaku Sejarawan, Dr. Ivan. R. B. Kaunang selaku Pakar Kajian Budaya, Denni Pinontoan, M.Teol, selaku Teolog, Drs. Deddy Pangkey, M.Hum, selaku Pemerhati Estetika Waruga dan Tonaas Rinto Taroreh selaku Praktisi Budaya Minahasa. Sementara budayawan Minahasa, Rikson Karundeng, M.Teol, selaku moderator, menjadi motor memandu jalannya diskusi.

Forum ilmiah ini, dihadiri ratusan orang. Terdiri dari mahasiswa, dosen dan pegawai FIB, akademisi, seniman, budayawan, jurnalis, aktivis serta para pegiat budaya Minahasa.

Diskusi juga diisi dengan lantunan syair Tontemboan oleh Kalfein Wuisan, selaku pegiat KAMA Minahasa, serta penampilan musik tradisi dari seniman Sulut, Paulus Heydemans.

Usai sesi materi dan tanya jawab, acara diakhiri dengan ucapan terima kasih yang disampaikan oleh Ketua Jurusan Ilmu Sejarah FIB UNSRAT, Dra. Fientje Thomas, M.Si. Diikuti penyerahan piagam penghargaan kepada para pemateri dan foto bersama.

Ketua Badan Pengurus Harian (BPH) AMAN Wilayah SULUT, Rivo Gosal, S.Teol, menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan pernyataan sikap AMAN untuk menyikapi kasus waruga di Minut.
“Ini adalah pernyataan sikap AMAN Wilayah Sulut bahwa dunia akademik juga harus memberi perhatian khusus terhadap kasus-kasus masyarakat adat. Dalam konteks ini, kasus pembangunan di Minut yang mengakibatkan rusaknya situs-situs adat Minahasa”, ucap Gosal.
Menurutnya, hasil diskusi dapat digunakan masyarakat adat Minahasa untuk mendesak pemerintah terkait kasus waruga Minut.
“Hasil diskusi ilmiah ini diharapkan dapat digunakan untuk mendesak pemerintah bertanggungjawab dan segera menyelesaikan kasus waruga di Minut”, tutur Rivo.
Ia juga menegaskan bahwa diskusi ilmiah adalah corong untuk mengedukasi serta membangun kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk menjaga situs budayanya.
“Diskusi ilmiah ini adalah corong untuk memberikan pengetahuan serta membangun kesadaran pemerintah dan masyarakat tentang penting menjaga situs budaya. Ini bertujuan supaya kasus di Minut, tidak terjadi lagi di Sulawesi Utara”, tegas Gosal selaku juga budayawan Minahasa.

Sejarawan Sulawesi Utara, Dr. Ivan R.B Kaunang, M.Hum, turut mengutarakan pemikirannya. Ia menjelaskan bahwa negara wajib menjaga warisan budaya seperti waruga.

“Waruga itu masuk warisan budaya. Negara berkewajiban untuk melindungi warisan budaya. Sebab warisan budaya memiliki nilai-nilai filosofis bagi sebuah suku bangsa dalam memajukan kebudayaan nasional”, jelas Kaunang.
Ia juga menegaskan bahwa bila sebuah bangsa tidak memajukan seni dan budayanya maka bangsa itu akan mengalami kehancuran.
“Sebuah bangsa yang maju secara akademik maka majulah pembangunannya. Sebuah bangsa yang maju secara politik maka lahir tokoh-tokoh politik yang dapat menjadi duta-duta politik bagi bangsa ini dan dunia internasional. Tapi sebuah bangsa yang tidak memajukan seni budayanya maka bangsa itu akan mengalami kehancuran” tegas Kaunang yang juga dikenal sebagai Pakar Kajian Budaya.