Wisata Berbasis Sungai, Dapat Uang dan Alam Lestari Pula

277
Ilustrasi sungai (ist)

Manado, MP

Pengembangan Usaha Pariwisata (Tourism Business) di Sulawesi Utara (Sulut) terus ditambah-pacu oleh berbagai kalangan. Diskusi dan pembahasan seolah tak pernah dingin dalam percakapan warga.

Rakyat biasa ikut serta. Apalagi kalangan akademisi. Mereka pun merasa punya andil memperbincangkannya. Salah satunya Fendy Parengkuan. Kali ini Mner Fendy (Sapaan akrabnya) mengangkat topik pariwisata berbasis sungai yang sangat populer di negara-negara maju.

“Mungkin tidak populer di Sulawesi Utara namun di mancanegara seperti di Eropa, Amerika, India, Tiongkok, juga Australia berbagai paket wisata minat khusus berbasis sungai memiliki pangsa pasar wisatawan berkualitas yg semakin membeludak,” kata Parengkuan via akun media sosialnya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Indonesia yang sudah memulai pengembangan wisata berbasis sungai di sungai Musi, Kapuas, Barito, Mahakam dan Brantas dapat pula menerapkannya daerah lain seperti di Papua dan Sulawesi.

“Di Indonesia sendiri, sudah mulai mantap pengembangannya berbasis sungai Musi (Sumsel), sungai Kapuas (Kalbar), Barito (Kalsel), Mahakam (Kaltim), Brantas (Jatim) dsb dsb. Potensi serupa dapat dikembangkan di Papua dan Papua Barat, juga di Sulawesi Selatan,” tutur budayawan yang berdomisili di Tondano ini.

Diinformasikan, Sulut lewat STIE Pariwisata Manado sudah menggagas konsep serupa untuk diterapkan di sungai Tondano.

“Untuk Sulawesi Utara baru saja digagas dan dirintis oleh STIE Pariwisata di Bumi Nyiur dgn objek sungai Tondano dari muara di Kota Manado sampai ke Sawangan di Kab Minahasa Utara,” kata pria penggandrung musik country ini.

Dipaparkan dosen Universitas Sam Ratulangi ini sungai mempunyai potensi wisata alam, sosial budaya, sosial ekonomi, seni budaya, sejarah dan lainnya.

“Sungai menyimpan potensi wisata alam, wisata sosial budaya, sosial ekonomi, seni budaya, wisata sejarah, dsb termasuk wisata minat khusus seperti arung jeram ke muara dan wisata susur sungai ke hulu,” bebernya.

Hal itu disebabkan oleh manfaat sungai bagi keperluan rumah tangga, pertanian, sanitasi lingkungan, industri, perikanan, transportasi, dan pertahanan.

“Sungai pd umumnya mendukung peran yg bermanfaat utk keperluan rumah tangga, pertanian, sanitasi lingkungan, industri, olah raga, pembangkit tenaga listrik, perikanan, transportasi, bahkan pertahanan dan tentu saja kepariwisataan,” pungkasnya.

Selanjutnya, Parengkuan mengatakan, sungai menyimpan kekhasan tertentu. Makanya pemerintah, investor, akademisi dan masyarakat harus mengambil perannya masing-masing demi keturunan umat manusia nantinya.

“Setiap sungai memiliki ciri khas termasuk keanekaragaman hayati yg tak tergantikan jika sampai musnah atau punah.”

“Pemerintah hendaknya menegakkan peraturan dan kebijakan pemanfaatan dan pelestarian sungai2, investor wajib jalankan berbagai peraturan pariwisata dan lingkungan hidup, akademisi harus lakukan penelitian demi pengembangan berkelanjutan terhdp sungai dan DAS-nya, dan warga masyarakat agar waspada terhdp bahaya erosi, banjir, penggundulan hutan, pencemaran lingkungan air dan tanah berdampak ke sungai sebagai “pinjaman” agar terus lestari bagi kemanfaatan anak cucu masa depan,” tutupnya. (Iswan Sual)