Wisuda Unima Tak Tertib, Rektor Diminta Didik Pegawai Arogan

630

Tondano, MP

Sejumlah pemandangan tak mengenakkan tersaji di acara wisuda Universitas Negeri (Unima) Manado, Kamis kemarin. 1.048 wisudawan dan ribuan orang tua hadir di Sidang Senat Terbuka yang dipimpin Rektor Unima Julyeta Runtuwene, di Auditorium Unima yang penuh sesak.

Kapasitas gedung tampaknya tak cukup untuk menampung seluruh undangan, orang tua wisudawan. Kondisi itu membuat kegiatan sidang senat terbuka tampak tidak tertib.

Carren Pandeiroth, salah satu undangan yang menghadiri wisuda mengaku bahkan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari oknum pegawai Unima, HK alias Hengky.

Pandeiroth menjelaskan kronologis kejadian. Awalnya, auditorium sudah penuh. Dia bersama ratusan undangan lainnya duduk di ruangan lobi, di tempat duduk yang sudah disediakan. Ruangan tersebut berbatas sekat kaca dengan ruang utama auditorium sehingga mereka tetap bisa melihat prosesi wisuda.

“Saya duduk bersebelahan dengan papa saya. Sekitar setengah jam wisuda dimulai, beliau ke toilet sehingga tas saya, ditaruh di kursi tempat duduknya. Tiba-tiba datang Hengky meminta kursi yang diduduki papa saya. Saya langsung bilang, ‘maaf om, ada orang duduk di sini. Ini di belakang ada kursi kosong’ sambil saya menunjuk kursi di belakang saya ada sekitar 4 kursi kosong,” jelas Pandeiroth.

Sayangnya oknum pegawai Unima itu tidak menghiraukan. “Dia kemudian melempar tas saya dan mengangkat kursi tempat papa saya duduk. Dengan arogannya, bapak tersebut berkata ‘Saya Pegawai Unima’ lantas kemudian membawa kursi ke lobi Auditorium,” bebernya.

Sontak kejadian itu langsung membuat heboh para tamu undangan yang berada di lokasi tersebut.

“Saya sempat mengejar bapak tersebut untuk mengambil fotonya namun beliau sudah masuk ke lobi sementara saya tidak bisa masuk ke situ karena ada security. Saya hanya menanyakan nama pegawai tersebut ke security,” tambahnya.

Pandeiroth mengaku sangat menyesalkan kejadian ini. Apalagi tas yang dilempar terdapat benda berharga seperti kamera, handphone dan gadget lainnya.

“Beginikah cara tuan rumah memperlakukan tamu undangan? Institusi pendidik selevel Unima, kok mempunyai oknum pegawai searogan itu. Rektor atau pihak Rektorat harap mendidik pegawainya agar tidak arogan.” ungkap Pandeiroth yang juga alumni Unima ini.

Dia berharap Rektorat juga bisa berbenah soal kualitas kegiatan sidang senat terbuka. ” Kalau kapasitas gedung tidak bisa menampung 1.000 wisudawan dan 2.000 undangan orang tua maka sebaiknya kurangi kuota wisuda jadi 300 saja. Atau bisa 1.000 wisudawan tapi lokasi kegiatannya dipindah ke gedung yang memadai,” usulnya.

Selain itu, pemandangan tidak menyenangkan djuga terjadi di balkon audiotorium. “Sejumlah undangan karena niat untuk melihat keluarganya di wisuda sampai menggelantung di balkon karena tempat duduk yang sudah tidak tersedia lagi. Ini sidang senat bukan menonton pertandingan sepak bola di stadion. Kiranya pihak Unima bisa berbenah agar bisa lebih baik ke depannya,” harapnya. (Kelly Korengkeng)