Wulan: Berharap GMKI Tomohon Rutin Menggelar Pelatihan Menulis

217

Tomohon, MS

Dalam rangka meningkatkan kemampuan menulis bagi mahasiswa, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Tomohon yang diketuai Steve Tarore, membuat kegiatan ‘Pelatihan Menulis Jurnalistik’, Sabtu (6/4)

Pelatihan dilaksanakan di Royal Maranatha Residences Tomohon. Dua narasumber dihadirkan pihak pelaksana. Rikson Karundeng, Wakil Pemimpin Redaksi Media Sulut dan penulis Abraham Lintong. Keduanya merupakan penggerak Komunitas Penulis Muda Minahasa MAPATIK.

Kedua narasumber bukan hanya memberikan materi tetapi langsung memberikan kesempatan bagi peserta untuk praktek menulis bersama. Mereka diajarkan soal teori jurnalistik, teknik wawancara hingga teknis penulisan.

“Dengan menulis kita bisa memberikan informasi, pengetahuan dan menginspirasi orang lain,” kata Kalfein Wuisan, penggerak Komunitas MAPATIK yang ikut mendampingi peserta.

Kepada para peserta Kalfein berbagi sedikit pengalaman. Ia sudah mulai intens menulis jurnalistik dari tahun 2007 sampai sekarang. Diakui, ada hambatan dan kendala ketika menjadi jurnalis.

“Salah satu tantangan yaitu ketika dikejar deadline, sementara berita yang akan disajikan belum ada. Menjadi jurnalis harus siap ketika diberi penugasan. Misalnya terjadi suatu peristiwa pada malam hari, harus segera turun ke lokasi kejadian saat itu juga,” katanya.

Kalfein pun memberikan pesan bagi generasi milenial, termasuk para peserta, agar memanfaatkan media sosial untuk menulis.

“Itu akan mengasah kemampuan menulis sehingga bisa menjadi modal ketika generasi milenial ingin menggeluti dunia jurnalistik,” ungkap Kalfein.

Meylani Sorongan, Ketua Bidang Organisasi GMKI Cabang Tomohon menjelaskan, GMKI sengaja membuat kegiatan pelatihan menulis jurnalistik. Selain untuk membekali kader dengan keterampilan menulis, kegiatan ini juga sebagai suatu pengabdian bagi masyarakat.

“Ketika kita memiliki gagasan yang baik, alangkah baiknya juga kita tuangkan dalam satu tulisan,” katanya.

Diakui, ada sejumlah hambatan yang dihadapi pelaksana saat hendak menggelar kegiatan ini. Misalnya soal kurangnya minat para mahasiswa untuk menulis karena terkesan membosankan. Untuk memancing minat, panitia melakukan sosialisasi kegiatan lewat grup-grup di media sosial.

“Harapan kami, peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat memberikan dampak positif kepada teman-teman. Nantinya lebih banyak lagi yang akan tertarik mengikuti kegiatan ini bila nanti GMKI membuat kegiatan seperti ini,” ungkap Meylani.

Salah satu peserta kegiatan, Wulan Rumengan mengungkapkan kegembiraannya mengikuti pelatihan ini. Sebab di ruang tersebut ia bisa mengenal orang-orang baru. “Saya juga semakin bersemangat, mau belajar menulis,” aku Wulan.

Ia berharap, GMKI akan membuat kegiatan ini secara rutin. Sehingga bisa menyediakan wadah bagi peserta untuk belajar menulis dan menghasilkan tulisan-tulisan.

Kegiatan pelatihan menulis jurnalistik ini berlangsung sekitar 7 jam. Berbeda dengan pelatihan serupa yang biasanya dilakukan beberapa hari. Walau hanya singkat, peserta mengaku dapat menyerap materi dengan mudah dikarenakan peserta langsung mempraktekkan materi yang disampaikan narasumber. Selain itu suasana pelatihan sangat menyenangkan.

Para peserta juga mengakui, kegiatan seperti ini sangat bermanfaat. Selain mendapat ilmu mengenai penulisan jurnalistik, ada semangat yang baru bagi peserta untuk membaca buku. Karena pemateri mengajarkan bahwa untuk menjadi penulis sukses harus rajin membaca.

Penulis : Gratia Mutiara Maskikit
Editor : Christian Karundeng