Yenni Dituntut 8,6 Tahun, Maxmilian dan Agus 8 Tahun Penjara

285

MANADO, ManguniPost.com – KasiPidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Manado, Pasaoran Simorangkir selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) bersama Alexander Sulung, Kamis (22/10) ini telah menuntut bersalah Direktur PT Kogas Driyap, Yenni Siti Rostiani bersama dua terdakwa lainnya, dalam sidang korupsi dana hibah banjir bandang Kota Manado 2014 yang digelontorkan pihak Kementerian Keuangan RI.

Di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Djamaludin Ismail, terdakwa Yenni telah dituntut pidana 8 tahun 6 bulan penjara atas perkara yang menyebabkan kerugian negara miliaran tersebut.

Tak hanya itu, JPU juga telah menuntut agar terdakwa Yenni membayar denda dan uang pengganti. “Membayar denda Rp200 juta, subsidair 6 bulan kurungan. Dan terdakwa dibebani membayar uang pengganti sebesar Rp6.355.765.517, dan apabila tidak dibayar harta benda terdakwa disita oleh Jaksa. Dan apabila harta benda terdakwa tidak mencukupi maka diganti dengan pidana penjara selama 4 tahun,” tuntut JPU.

Sementara itu, terdakwa Maxmilian Tatahede dan terdakwa Agus Yugo Handoyo telah dituntut 8 tahun penjara beserta denda.

Usai mendengarkan tuntutan JPU, Majelis Hakim kemudian menunda persidangan dan memberikan kesempatan kepada terdakwa untuk menyusun pledoi alias pembelaan, dalam tempo 10 hari.

Dalam sidang tuntutan ini, diketahui pula kalau ketiga terdakwa telah dituntut dengan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI No 31 Tahun 1999, Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Sebelumnya, dalam persidangan perkara ini, telah terungkap fakta bahwa ada perusahaan asal Jakarta lainnya yang terlibat korupsi dalam penggunaan dana Konsultansi Managemen Kegiatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sektor Permukiman Berbasis Masyarakat (RELOKASI), yakni PT Phibeta Kalamwijaya.

Adapun dalam dakwaan JPU, telah tertuang bahwa PT Kogas telah membuat negara mengalami kerugian sebesar Rp6,3 miliar lebih. Sementara itu, PT Phibeta telah menyebabkan kerugian negara sebesar Rp2,3 miliar lebih. (*)